Sabtu, 11 Maret 2017

Bolmut, Demokrasi lokal: derita pemain dan penontonnya.
Inal Datunsolang
Tahun ini (2017), warga Bolmut memasuki “dekade” pertama dalam carut-marut/hiruk pikuk perjalanannya (semenjak dimekarkan 2007 silam). Kebanyakan dari kita, belumlah lupa bagaimana euforia “pemekaran” menjadi semacam “gairah tersendiri” dalam menapaki jalan berdemokrasi di republik ini.
Saat yang bersamaan, sebagian besar dari kita pula, telah mengalami “Amnesia” sejarah. Ini dibuktikan dengan begitu banyak asumsi-asumsi “liar” yang muncul dari bibir-bibir orang lewat moncong Tweeter/facebook/intagram dsb. Yang tak henti-hentinya memfitnah bahkan sampai pada level menghina serta menghujat sesama, sesama warga bolmut. Bukti lain dapat dilihat dari, betapa pemerintah daerah telah menggaet tim cyber crime Polda Sulut untuk mengusut tuntas bias dari ketidakdewasanya menggunakan kecanggihan tekhnologi. Hinaan serta pujian pada level tertentu, kita tidak begitu membutuhkannya, sebab itu bukti mental yang sakit.
Lantas apakah kita akan terus memelihara “ke-udik-an” berpikir dengan meninggalkan akal sehat dan cita-cita luhur? sungguh mentalitas kerdil yang mestinya dimusnahkan.
Manusia bolmut dalam menghadapi momentum “demokrasi lokal” bernama Pilkada sebelum dan sesudahnya haruslah mawas diri dengan memelihara “spirit kolektif” Karena meniscayakan momen demokrasi sejenis Pilkada sebagai solusi utama untuk perbaikan dan kemajuan adalah sesuatu yang naïf, karena acap kali hanya terjadi sekali dalam lima tahun dan itu sangat mungkin hanya akan menghasilkan “orang” atau sekumpulan orang saja (elite/pejabat) . Padahal yang kita(dari ujung sangkub hingga pinogaluman) butuhkan adalah “pemimpin”. Terlalu sayang kalau segala energi dan niat baik, ketulusan, serta akal sehat warga Bolmut terkuras habis begitu saja dalam sebuah momentum yang artifisial, baik menyangkut proses maupun hasilnya..
Telah menjadi kenyataan mutlak bahwa, mekarnya sebuah daerah tak lain dan tak bukan adalah untuk “kesejahteraan rakyat”. Alih-alih “mensejahterakan”, justeru hal sebaliknyalah yang Nampak. Di titik ini Maka, benarlah ungkapan: rakyat kita belum sepenuhnya terdidik, sistem kita morat-marit, elit kita pragmatis, dst. Tanda-tandanya: faktor uang makin dominan, hubungan patrimonial dan dominasi elite menguat, kekerasan dan tekanan masih menghantui warga, korupsi menyebar dengan berbagai modus, ikatan primordial diperalat, partai sekadar alat musiman, manipulasi aturan dan prosedur menyebar di mana-mana(Basri Amin), ungkapan ini semakin memperlebar jurang antara harapan dan kenyataan.
Sayangnya kabupaten bolaang mongondow utara adalah daerah yang cukup abai mengurusi rakyatnya. Maka jangan heran apabila, jarak antara pemerintah dan rakyatnya sering kali bertabrakan pada titik-titik tertentu.
Bukankah landasan utama untuk demokrasi yang utuh adalah “warga yang aktif”. Bukan aktif dalam pengertian sebagai penonton dan penggembira tapi aktif dalam arti menentukan hal-hal utama yang penting “sebelum” dan “sesudah” sebuah momen demokrasi dilangsungkan. Kecelakaan besar yang banyak menghancurkan modal demokrasi kita adalah karena energi warga hanya ter/diarahkan “pada saat” sebuah momen demokrasi dilangsungkan.
Kita patut merenungkan dalam-dalam bahwa pertumbuhan demokrasi di Bolaang mongondow utara (mestinya) sudah bisa memberi buah kemajuan dan perbaikan kemakmuran bagi masyarakat. Modal kebudayaan, SDA, dan SDM daerah ini cukup memadai. Kini, yang kita butuhkan adalah kepemimpinan yang otentik, institusi yang sehat, dan “mentalitas” kolektif yang mengutamakan akal sehat dan wawasan ke depan, bukan.?