Sabtu, 11 Maret 2017

Bolmut, Demokrasi lokal: derita pemain dan penontonnya.
Inal Datunsolang
Tahun ini (2017), warga Bolmut memasuki “dekade” pertama dalam carut-marut/hiruk pikuk perjalanannya (semenjak dimekarkan 2007 silam). Kebanyakan dari kita, belumlah lupa bagaimana euforia “pemekaran” menjadi semacam “gairah tersendiri” dalam menapaki jalan berdemokrasi di republik ini.
Saat yang bersamaan, sebagian besar dari kita pula, telah mengalami “Amnesia” sejarah. Ini dibuktikan dengan begitu banyak asumsi-asumsi “liar” yang muncul dari bibir-bibir orang lewat moncong Tweeter/facebook/intagram dsb. Yang tak henti-hentinya memfitnah bahkan sampai pada level menghina serta menghujat sesama, sesama warga bolmut. Bukti lain dapat dilihat dari, betapa pemerintah daerah telah menggaet tim cyber crime Polda Sulut untuk mengusut tuntas bias dari ketidakdewasanya menggunakan kecanggihan tekhnologi. Hinaan serta pujian pada level tertentu, kita tidak begitu membutuhkannya, sebab itu bukti mental yang sakit.
Lantas apakah kita akan terus memelihara “ke-udik-an” berpikir dengan meninggalkan akal sehat dan cita-cita luhur? sungguh mentalitas kerdil yang mestinya dimusnahkan.
Manusia bolmut dalam menghadapi momentum “demokrasi lokal” bernama Pilkada sebelum dan sesudahnya haruslah mawas diri dengan memelihara “spirit kolektif” Karena meniscayakan momen demokrasi sejenis Pilkada sebagai solusi utama untuk perbaikan dan kemajuan adalah sesuatu yang naïf, karena acap kali hanya terjadi sekali dalam lima tahun dan itu sangat mungkin hanya akan menghasilkan “orang” atau sekumpulan orang saja (elite/pejabat) . Padahal yang kita(dari ujung sangkub hingga pinogaluman) butuhkan adalah “pemimpin”. Terlalu sayang kalau segala energi dan niat baik, ketulusan, serta akal sehat warga Bolmut terkuras habis begitu saja dalam sebuah momentum yang artifisial, baik menyangkut proses maupun hasilnya..
Telah menjadi kenyataan mutlak bahwa, mekarnya sebuah daerah tak lain dan tak bukan adalah untuk “kesejahteraan rakyat”. Alih-alih “mensejahterakan”, justeru hal sebaliknyalah yang Nampak. Di titik ini Maka, benarlah ungkapan: rakyat kita belum sepenuhnya terdidik, sistem kita morat-marit, elit kita pragmatis, dst. Tanda-tandanya: faktor uang makin dominan, hubungan patrimonial dan dominasi elite menguat, kekerasan dan tekanan masih menghantui warga, korupsi menyebar dengan berbagai modus, ikatan primordial diperalat, partai sekadar alat musiman, manipulasi aturan dan prosedur menyebar di mana-mana(Basri Amin), ungkapan ini semakin memperlebar jurang antara harapan dan kenyataan.
Sayangnya kabupaten bolaang mongondow utara adalah daerah yang cukup abai mengurusi rakyatnya. Maka jangan heran apabila, jarak antara pemerintah dan rakyatnya sering kali bertabrakan pada titik-titik tertentu.
Bukankah landasan utama untuk demokrasi yang utuh adalah “warga yang aktif”. Bukan aktif dalam pengertian sebagai penonton dan penggembira tapi aktif dalam arti menentukan hal-hal utama yang penting “sebelum” dan “sesudah” sebuah momen demokrasi dilangsungkan. Kecelakaan besar yang banyak menghancurkan modal demokrasi kita adalah karena energi warga hanya ter/diarahkan “pada saat” sebuah momen demokrasi dilangsungkan.
Kita patut merenungkan dalam-dalam bahwa pertumbuhan demokrasi di Bolaang mongondow utara (mestinya) sudah bisa memberi buah kemajuan dan perbaikan kemakmuran bagi masyarakat. Modal kebudayaan, SDA, dan SDM daerah ini cukup memadai. Kini, yang kita butuhkan adalah kepemimpinan yang otentik, institusi yang sehat, dan “mentalitas” kolektif yang mengutamakan akal sehat dan wawasan ke depan, bukan.?




Kamis, 16 Februari 2017

TEOLOGI PEMBEBASAN
RESPON TERHADAP KEKAKUAN MEMAHAMI ISLAM.
Inal datunsolang
Islam adalah agama yang ajaran-ajaranya diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui Nabi Muhammad saw. dalam ajaran Islam senantiasa mengarahkan manusia pada akhlak yang baik (akhlaq mahmudah) dan menjauhi akhlak yang buruk (akhlaq mazmumah). Berangkat dari pernyataan tersebutlah maka, seharusnya agama Islam menjadi spirit manusia dalam melakukan hal-hal baik seperti tolong-menolong, tenggang rasa, mencintai sesama, mencintai perdamaian, hidup rukun,  dsb. Bukan malah sebailknya. Pendekatan dalam memahami agama Islam tidak boleh tunggal, apalagi hanya bersifat tekstual saja. Hal itu dapat memicu “kekakuan” yang pada tahap berikutnya akan menghasilkan fanatik buta dibarengi dengan klaim-klaim kebenaran (truth calim). Bukan hanya itu, Islam pun akan menjelma menjadi “Agama adalah Candu Masyarakat”, sebagaimana ungkapan Karl Marx. Agama, menurut Marx adalah ciptaan manusia sebagai tempat untuk berkeluh kesah dan pelarian sementara, mengalihkan diri dari realitas penderitaan yang dialami oleh manusia. Agama menyediakan ajaran-ajaran yang meninabobokan para pengikutnya agar lebih menerima kenyataan yang ia alami sebagai bagian dari perjalanan hidup yang dikehendaki Tuhan
Apakah Islam juga mengalami hal yang sama sebagaimana agama yang disaksikan Marx? Untuk sebagian, jawabannya adalah “ya”. Menurut Hassan Hanafi, Islam yang telah terkooptasi menjadi hanya sekedar kumpulan rirus-ritus, perayaan-perayaan, dan kepercayaan ukhrawi saja. Akan tetapi sebagiannya lagi akan berkata “tidak” sebab Islam adalah ajaran agama yang mengedepankan nilai-nilai persatuan-kesatuan, spirit perubahan dengan doktrin Islam mesti dipahami sebagai langkah mendorong manusia dalam melakukan perubahan hal ini bersandar pada ayat al- quran surat al-Ra’d ayat 11 yang artinya: "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.  Oleh karena itu, pendekatan dalam memaknai Islam mesti beragam. Misalnya, pendekatan sosiologis dimana peran masyarakat dalam mengekspresikan agam islam menjadi ukuran tertentu dalam melihat bagaimana islam mempengaruhi masyarakat dan juga sebaliknya. Selain itu ada pendekatan historis, ketika proses penyebaran Islam dari tanah lahirnya yaitu Arab hingga masuk ke Indonesia, terdapat frem kesaksian-kesaksian dan artefak peninggalan yang mempengaruhi perkembangan Islam. Agama Islam yang menyatu dengan budaya pada tahap selanjutnya disebut pendekatan kultural dalam memahami Islam sebagai ajaran yang megakomodir tradisi-positif local, dan ada pula pendekatan lain yang diperkenalkan oleh Asghar Ali Engineer, yaitu pendekatan teologi emansipatoris. Tema yang terakhir ini menjadi menarik untuk di resapi bersama guna melihat Islam sebagai Agama yang di anut oleh sebagian besar masyarakat Indonesia umumnya dan masyarakat bolaang mongondow utara khususnya.
Dalam menyikapi era digital dewasa ini, ajaran Islam mestilah keluar dari perangkap klaim kafir, sesat yang sering dipertontonkan media masa lewat jargon khilafah Islamiyah. Paham wahabi yang menjadi dasar dari argumetasi tersebut meyakini bahwa dengan berdirinya Negara Islam maka persoalan kemiskinan, pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dapat terlaksana. Namun demikian, angan-angan itu menjadi hambar ketika diperhadapkan dengan kenyataan bahwa Indonesia adalah Negara hukum bukan Negara agama. Yang memperjuangkan kemerdekaan adalah seluruh warga Negara yang tentunya memiliki perbedaan keyakinan. Perbedaan keyakian yang ada mestilah dijadikan kekayaan peradaban dan warisan untuk mengisi kemerdekaan. Dalam suasana merayakan kemerdekaan Indonesia yang berusia 71 tahun ini, masyarakat khusus di bolaang mongondow utara mengisinya dengan beragam kegiatan. Mulai dari “cat pagar-gerak jalan-hingga pengibaran bendera merah putih”. Rutinitas yang berulang dan belum memiliki makna baru dalam mengisi kemerdekaan. Disaat bersamaan, pemerataan pendidikan, kesejahteraan masyarakat masih terabaikan. Sudahkah pembangunan daerah yang akan berumur satu decade ini mengisi kemerdekaan dengan menjadikan ajaran Islam sebagai pandangan hidup (way of life), ataukah Islam hanya menjadi agama yang mempertahankan status quo.
Sejak semula Engineer memberikan satu usulan kuat untuk mereformasi teologi konvensional guna menuju teologi ‘baru’ yang lebih relevan. Menurutnya, teologi yang selama ini dianut oleh kebanyak umat Islam mengandung kepasifan dalam menaggapi realitas kehidupan yang tak adil. Apa yang menjadi semangat hakiki agama justru kandas lantaran kecenderungan pembahasan dan orientasi teologi yang terlepas dari kondisi timpang di hadapannya. Secara eksplisit, Engineer menolak teologi yang terlalu beraroma metafisik, abastrak, dan tak menyentuh problema kehidupan masyarakat. Karekteristik teologi semacam ini hanya akan menambah kuat status quo, atau bahkan mendukung dan secara bersama-sama melakukan penindasan rakyat. Sebagaimana tuturnya:
Umumya teologi pada masa sekarang ini dikuasia oleh orang-orang yang sangat mendukung status quo. Oleh karena itu, teologi cenderung sangat ritualis, dogmatis dan bersifat metafisis, yang membingungkan. Dengan wajah yang seperti ini, agama sama denga misitik dan menghipnotis masyarakat. Dan teologi pembebasan harus membersihkan elemen-elemen ini sampai ke akar-akarnya
Teologi Pembebasan adalah gabungan dari teologi dan pembebasan. Secara etimologis, teologi berasal dari theos yang berarti Tuhan dan logos yang berarti ilmu. Teologi adalah ilmu yang mempelajari tentang Tuhan dan hubungannya dengan manusia dan alam semesta. Sedangkan kata pembebasan merupakan istilah yang muncul sebagai reaksi atas istilah pembangunan (development) yang kemudian menjadi ideologi pengembangan ekonomi yang cenderung liberal dan kapitalistik dan umum digunakan di negara dunia ketiga sejak tahun 60-an
Perbincangan tentang agama (religion) tidak akan pernah terputus, bahkan terus berkembang seiring dengan situasi dan kondisi manusia yang menjadikannya sebagai pedoman (way of life) dan bahan studi di berbagai kalangan. Perbincangan selama ini adalah cara pandang manusia terhadap agama itu sendiri dan mengamlkannya dalam kehidupan bermasyarakat. Wacana klasik sering menempatkan agama sebagai suatu yang absolute tentang kebenaran hidup dan kehidupan dan menempatkannya suatu yang sakral, untouchable dengan berbagai alasan, dan cara memahaminya secara doktriner, sehingga terkesan kaku tidak menciptakan ruang atas ranah kritis manusia. Agama juga disikapi sebagai suatu yang given dan lebih menonjolkan sisi hubungan manusia dengan Tuhan (worship), dari pada ranah sosial. Kehadiran pemikir kontemporer seperti Asghar Ali Engineer melihat bahwa pendekatan kepada Agama pada masa klasik telah mengakibatkan kejumudan berfikir kaum muslim yang sudah jauh tertinggal dengan non muslim dalam ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Pada saat ini muncul lontaran pemikiran bahwa diperlukan metodologi dalam memahami dan memahamkan agama, yaitu harus ada perimbangan terhadap sisi normativitas agama dengan tidak melupakan sisi historisitas agama.
Cara pandang normativitas adalah pemahaman agama yang lebih berorietasi pada hubungan manusia dengan Tuhan dan terfokus pada kajian teks dengan tidak mengedepankan sisi rasionalitas. Sedangkan historisitas, adalah bagaimana memahami agama dan teks yang ada dengan melihat sisi-sisi historis yang melatarbelakanginya, atau gejala-gejala sosial kultural yang melingkupinya Pembaharuan pemikiran ini muncul sebagai kegelisahan pemikir kontemporer yang melihat realitas keberagamaan umat Islam yang telah lama terkungkung dalam kejumudan, maka lontaran pemikiran di atas menjadi sebuah revolusi teologis menuju teologi transformative untuk menjawab realitas kekinian
Bagi Asghar Ali, Ada beberapa alasan mengapa diperlukan pembenahan terhadap teologi menuju pembebasan, diantaranya: pertama, bahwa dalam kurun waktu yang cukup lama teologi menjadi suatu yang status quo, stagnan, dan tidak memberikan kontribusi terhadap kemajuan berfikir kaum muslimin, kedua, sekian lama juga teologi dijadikan alat bagi penguasa dalam melanggengkan kekuasaan dengan atas nama agama, ketiga, teologi sering dijalankan hanya pada ranah metafisik dan tidak menyentuh sisi subtansi keadilan, kedamaian, kemakmuran bagi kaum muslimin, bahkan justru menjadi jalan bagi halalnya radikalisme dan penindasan.
Lontaran pemikiran Asghar Ali ini tidak serta merta muncul begitu saja, melainkan adanya pengamatan terhadap realitas yang terjadi, khususnya di India, Negara dimana ia tinggal, terdapat gejolak sosial yang luar biasa dimana agama-agama tersebar, dan secara teologis mengusung semangat ketuhanan, tetapi pada kenyataannya bertolak belakang dengan esensi kedamaian dan kesejahteraan umat manusia. Dia melihat begitu hebat pergesekan (konflik) kelompok masyarakat yang mengatasnamakan agama dan banyak menelan korban. Selain itu juga realitas adanya struktur sosial yang mengenal kelas di India sangat menghambat bagi hak-hak warga Negara untuk mendapatkan hidup yang layak. Sehingga menurut hemat penulis, lontaran gagasan tentang teologi pembebasan merupakan suatu yang fenomenal dan mendekontruksi pemikiran traditional-teologi dengan melakukan upaya aktif melalui berbagai gerakan-gerakan perspektif Teologi Pembebasan yang menuntut perubahan struktur sosial yang tidak adil dan menindas.

Berdasarkan uraian di atas, penulis melihat adanya upaya positif yang dilakukan oleh Asghar Ali Engineer dalam mentransformasikan Islam. Islam Tidak hanya sekedar agama doktriner yang terus berkutat dengan teks-teks Al-Qur’an dan Hadis saja sebagai sumber ajarannya, melainkan juga mengkontekstualisasikan ajaran-ajran Islam pada tataran praktis dimana umat Islam harus keluar dari keterkungkungan. Kemiskinan bukan terletak pada apa yang sudah dikehendaki Tuhan, melainkan sudah seberapa jauh manusia berusaha. Miskin bukan takdir, melainkan ada upaya pemiskinan tersistematis dimana status quo yang sudah tersistematis harus dihilangkan dari muka bumi. Kesetaraan adalah tujuan dari teologi pembebasan

Minggu, 22 November 2015

FOSIL DAN NALAR MENTAL MAHASISWA BOLMUT[1]



Pola mahasiswa bolmut di Gorontalo(2010-2015)
Oleh Inal Datunsolang[2]
Selama ini kita terus di belenggu dengan paham yang “ekstrim”, tentang kuliah. Paham itu berasal dari orang tua kita sendiri. Memang setiap orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi orang sukses. Akan tetapi, kesuksesan yang diinginkan orang tua(yang berasal dari bolmut) tersebut adalah ketika anaknya mampu menyelesaikan study-mendapat pekerjaan yang layak(PNS)- kemudian menikah. Hahaha…. Memang kebutuhan ekonomi adalah hal priemer yang harus di atasi. akan tetapi bukan hanya itu, di saat berproses menjadi mahasiswa tidak hanya paradigm itu yang dapat di gunakan. Uniknya ini terjadi di kalangan orang tua (menengah kebawah) yang mengirimkan anak mereka ke bumi gorontalo. Dan cita-cita “mulia” inipun menjadi semangat setiap mahasiswa yang berasal dari kabupaten JUARA (slogan pemerintah) bolaang mongondow utara. Semakin menarik ketika penulis dapati, argumentasi di atas hampir menjadi bahan cerita di kalangan mahasiswa yang sering nongkrong di kampusnya masing-masing.
Uneversitas negri gorontalo(UNG). Institut agama islam negri gorotalo(IAIN) dan universitas Ichsan gorontalo(UNISAN) adalah tiga perguruan tinggi yang menajdi sasaran utama para orang tua dalam menguliahkan anaknya. Tanpa mengesampingkan universitas muhamadiyyah gorontalo (UMGOR) sekolah tinggi ilmu kesehatan(STIKES), perguruan tinggi terakhir ini banyak di minati orang tua yang berlatar belakang pendapatan yang cukup(maklum biayanya lumayan mahal). Dari upaya penelusuran yang telah penulis lakukan, memang disadari patut menjadi kegelisahan bersama. Sebabnya dengan motivasi (sekedar) untuk memenuhi kebutuhan hidup nantinya para mahasiswa ini kemudian melupakan hal yag cukup urgen dalam berproses menemukan jati dirinya. Karena menanggalkan semangat berpengetahuan selama hayatnya.
Menuntut ilmu tidak hanya sekedar untuk mendapatkan pekerjan tetap sebagai abdi Negara (PNS). Melainkan untuk memaksimalkan potensi yang telah tuhan berikan. Sebagaimana tujuan ilmu itu adalah untuk di amalkan. Menjadi manusia yang berbudi luhur, cakap, bertanggung jawab akan ilmunya serta menjadi contoh atau teladan yang baik sebagaimana yang telah rasulullah ajarkan seakan hanya menjadi ilusi.  Selain hal tersebut, kecenderungan untuk aktif dalam berorganisasi, terlibat dalam kegiatan-kegiatan bermanfaat, memaksimalkan otak dengan membaca, diskusi dan dialog pun menjadi barangg langka yang di temukan didalam diri mahasiswa bolmut. Ini penulis sadari adalah gejala yang semakin marak dalam kalangan mahasiswa bolmut dewasa ini. Fenomena tersebut bukan tanpa dasar dan fakta, melainkan gejala yang telah penulis amati di mulai dari tahun 2010 hingga 2015. Lima tahun terakhir ini penulis bermukim di bumi gorontalo tidak sekedar menyelesaikan kewajiban sebagai hamba akademik melainkan juga terus menerus mengamati keadaan mahasiswa bolmut yang tentunya sekampung halaman dengan penulis.
 Berbeda dengan angkatan sebelmunya 2010 ke belakang, terdapat mahasiswa-mahasiswi yang cukup popular dengan keilmuan yang mendalam dan aksi sosial yang mereka lakukan. Sebut saja pendiri dan penggagas KPMIBU yang dulu nama organisasi tersebut adalah gerakan mahasiswa BINADOU(nama ini di ambil berdasarkan gabungan dari dua eksuap kerajaan di bolmut yaitu BINTAUNA dan KAIIPANG). Sebut saja arter datunsolang dan angkatannya fadli binolombangan, beserta pendekar-pendekar lain yang tak bisa di pungkiri adalah tokoh mahasiswa yang berasal dari bolmut seperti armin humalidi, arp jahala, antto lenda, sukri humalidi, julkifli, budi, ija, om teo, liem antogia. Mereka terdeteksi berasal dari perguruan tinggi UNG, tidak hanya itu, di IAIN pun terdapat nama-nama yang tak kalah popular semisal, fathan boulu, upik che goma, syafar pohontu, onal lamunte, farhan, frans ali dan pengikut setia mereka yaitu inal datunsolang, paslah patingki, firman stion, kamil, iki family, nawir  dll.
Bukan salah orang tua memang, ketika menitipkan anak mereka ke bumi goronttalo. Tetapi dasar anaknya yang tidak mau berproses dengan benar sajalah sehingga fenomena ini cukup menjadi potensi buruk yang akan menjadi bom waktu ketika tidak di tangani. Memang benar terdapat organisasi kerukunan mahasiswa Indonesia kabupaten bolaang mongondow utara di gorontalo, akan tetapi organisasi ini seakan hanya menjadi tempat ngumpul dan bernostalgia dengan kampong halaman. Tanpa kemudian melahirkan ide untuk bagaimana membendung arus hegemoni individualisti yang di bawa globalisasi.
Di loaklitas kampus iain sultan amai gorontalo pun terdapat penyakit mematikan yang oleh penulis di beri nama MAHASISWA FOSIL, hehe memang benar adaya. Banyak terdapat mahasiswa dalam perguruan yang penulis sebu barusan. Akan tetapi tidak banyak dari mereka yang hanya sekedar ke kampus pada jam perkuliahan saja. Di waktu luang mereka banyak menghabiskan waktu untuk bersantai di kos kosan dan bahkan hanya duduk melamun di pigggiran jalan. Daya kratifitas yang rendah juga mnenjadi faktor  utama menyebabkan penyakit FOSIL ini.
Banyak mahasiswa bolmut yang terus menerus menguras keringat orang tua mereka di kampong halaman dengan menggunakan uang kiriman untuk berfoya-foya, membeli rokok, jalan jalan, bahkan tidak jarang uang kiriman orang tua mereka di gunakan untuk membeli minuman keras, mabuk2an hingga mengalami kecelakaan motr, berkelahi dengan alasan tak jelasm(akibat mabuk mungkin) bahkan tidak jarang dari mereka yang berkelahi hanya karena persoalan romantisme (Alhamdulillah penulis belum mengalaminya).
Fokmma yang katanya forum organisasi yang ada di lingkungan iain pun eblum menjadi solusi guna untuk mengaktualisasikan diri mereka. Buktinya masih banyak terdapat mahasiswa bolmut yang tidak terkafer di dalam forum tersebut.  Kalaupun ada yang sudah terkader, mereka hanya menjadi pelengkap penderitaan forum tersebut dengan bersikap acuh tak acuh dengan kondisi diri mereka sendiri.
Selain KPMIBU dan FOKMMA, penulis mendapat angin segar dengan adaya organisasi yang bernama IMAN ikatan mahasiswa totabuan, dimana dalam keanggotaannya terdapat mahasiswa yang berasal dari bolmut. Namun sayangnya organisasi ini pun menjadi semacam organisasi pengikat tanpa arah dan tujuan. Selain itu juga menjadi pelengkap derita bahkan tidak dapat di ingkari pun banyak yang terhegemoni dengan situasi baru dimana kekagetan dengan suasana yang belum mereka alami sebelumnya.
Kritikan ini bukan di arahkan untuk memulai konflik sesama warga bolmut yang berada di bumi gorontalo, melainkan bacaan diri dengan penyakit FOSIL yang semakin marak menyebar dan hinggap dalam diri mahasiswa bolmut. Penulis dengan penuh kesadaran menyebut FOSIL sebagai penyakit diri yang melanda hamper, ingat… hampir sebagian mahasiswa bolmut. Bagi mereka yang merasa aktif di dalam kegiatan2an baik itu KPMIBU, FOKMMA, IMAN dan entah apa namanya organisasi mahasiswa bolmut yang berada di gorontalo lain, penulis menghimbau agar kiranya memaksimalkan peran organisasi sebagai wadah untuk mengeksplorasi diri dalam mengembangkan ide ide kreatif. Sampai dengan saat ini, yang penulis dapati adalah perebutan kekuasaan, siakp acuh tak acuh yang terus berkembang di tubuh organisasi mahasiswa bolmut.
Baiknya dibuat diskursus terkait beberapa pendapat penulis di atas. Guna untuk menemukan solusi tepat dalam menghadapi penyakit FOSIL ini.
 Apa itu FOSIL?
1)      Fosil adalah pemikiran untuk tetap mengunci diri dari berbuat, berbincang dan berargumentasi kritis layaknya mahasiswa sebagai manusia akademis
2)      Fosil adalah sikap berdiam diri seperti halnya benda mati
3)       Fosil adalah sikap tak peduli dengan keadaan sesame mahasiswa yang berasal dari bolmut
4)      Fosil adalah tahapan diri menuju ketidak mandirian dalam mengubah tatanan hidup ketika kelar nanti dalam bermahasiswa
5)      Fosila adalah penyakit yang membuat nalar mental mahasiswa dari bolmut menjadi jauh dari daya kreatifitas mendobrak ketidakmampuan diri untuk berkembang menjadi layaknya tokoh2 mahasiswa pemuda di zaman pergerakan nasional dahulu.
Sejarah tentang perlawanan mahasiswa di tiap era besarnya menjadi contoh actual dalam melawan penyakit fosil. Dimana setiap organisasi mahasiswa terus beraktifitas akademik disamping bersuara dalam pola perputaran zaman. Sebagaimana yang tercantum dalam catatan perjalanan Negara repoblik Indonesia, dimana sumpah pemuda pada tahun 1908
 Mengukir pijakan awal perlawanan semua elemen muda bangsa untuk melawan penjajahan. Sikap dan tindakan mereka pun menjadi acuan lahirnya sumpah mahasisa Indonesia di tahun 1998 saat mengulingkan kekuasaan pada saat itu. Soeharto pun tumbang layaknya para penguasa-penguasa dunia yang bersikap otoriter. Sedikit bernostalgia, perlawanan kaum muda memang membawa hawa baru dalam dunia akademik. Di lokalitas daerah gorontalo misalnya. Aksi aksi perlawanan elemen muda pun pernah terjadi. Dimana mengecam dan mengutuk kebijakan pemerintah daerah adalah bukti kongkrit. Pada saat itu mahasiswa bolmut terdahulu pun ikut ambil bagian dalam perlawanan tersebut.
Pertanyaan besarnya bukan pada menghakimi kawan, teman, atau bahkan sahabat anda. Melainkan untuk diri anda sendiri. Sudahkan anda terbebas dari penyakit FOSIL ini?
Kerangkan penyakit yang penulis sebut di atas, adalah bagian penting untuk dilawan. Hal itu di sebabkan catatan kritis ini akan menjadi sumber referensi bagi mahasiswa bolmut medatang. Sebagaimana kata pepatah. “ hidup tak ubahnya seperti roda. Berputar terus menerus” mengingat pentingnya argumentasi mengenai situasi nalar dan mental mahasisswa bolmut ini kiranya penulis berharap jangan ada lagi penyakit yang akan menghiggapi mahasisswa bolmut di masa depan. Sebab, catatan ini berfungsi selain informasi mengenai keadaan mahasiswa bolmut saat ini (2010-2015) juga sebagai alat baca mahasiswa di masa depan untuk tidak mengulangi kesalahan yang terjadi. Menjadi generasi yang terus kritis dan kreatif adalah bagian solusi yang ti tawarkan oleh penulis.
Kritis dalam artian membaca situasi secara tajam, mencermati isu dan propaganda, melawan bentuk kebijakan yang sifatnya mengekang, menindas bahkan merampas hak-hak mahasiswa. Tidak boleh berhenti sampai disitu, terus melakukan pengkaderan guna memperbanyak pasukan adalah tindakan nyata yang harus di ambil. Pun di bumbuhi dengan aksi aksi sosial. Sehingga ilmu yang didapat tidak hanya menjadi perdebatan belaka melainkan amalan yang seharusnya.  
 Apakah anda adalah salah satu FOSIL yang menghuni salah satu perguruan tinggi di gorontalo?



[1] materi ini di sajikan dalam diskusi rutin dan di setiap kesempatan yang penulis punyai
[2] penulis dalah mahasiswa pasca IAIN Gorontalo yang sedang mencari pacar

Jumat, 20 November 2015

SEKILAS TENTANG “KITA”[1]



bagian 1
INAL DATUNSOLANG[2]
PENGANTAR
Seumpamanya bung karno hidup di masa kini, lebih tepatnya 2015 menjelang 2016, dapat dipastikan beliau akan geleng-geleng kepala melihat kaum mudanya. Kaum muda yang dipercaya dan diyakini sebagai penerima tongkat estafet mengisi kemerdekaan dengan tidak terjerumus pada perangkap globalisasi justeru malah menjadi budak-budaknya. Mungkin bagi mereka, anak muda yang hidup di masa awal menjelang kemerdekaan mendedikasikan masa mudanya untuk mengkonsepsikan kemerdekaan juga akan tertawa terbahak-bahak melihat fakta kini yang melingkupi kaum mudanya yang sudah tak tahu bagaimana manisnya kebersamaan, indahnya perbedaan suku bangsa, adat budaya, serta agama yang diikat dalam sebuah sumpah suci. Sumpah pemuda yang di deklarasikan oleh kaum muda yang terorganisir dalam jong java, jong celebes, jong sumatera, jong ambon dll. Dan mungkin bagi mereka, anak muda yang hidup di masa awal kemerdekaan dan turut mengabdikan dirinya dalam perang mempertahankan kemerdekaan akan pusing tujuh keliling, setelah tahu bahwa tujuh dasawarsa kemudian anak mudanya menjadi serba acuh tak acuh dengan kondisi bangsanya sendiri.
Sekali lagi mungkin, bagi mereka, anak muda yang hidup di masa penggulingan rezim orde lama, penggulingan rezim orde baru yang otoritarianisme itu, serta anak muda yang ikut mengisi era reformasi akan malu yang teramat sangat, ketika tahu dengan pasti bahwa kaum mudanya lebih takut kehilangan pulsa data ketimbang buku.  Pernyataan tersebut bukan sebuah generalisasi negatif atas pesimisme yang dalam mengenai kaum muda dewasa ini.. Melainkan sebuah kritik yang mesti dijawab dengan konsep gagasan dan bukti nyata berupa tindakan-tindakan yang mengarah pada populisme elan vital kaum muda dalam memainkan peranannya sebagai sebuah entitas yang memiliki spirit dan potensi  penggerak, penggebrak dan pendobrak.
Atau mungkin, keresahan demikian hanya dirasa penulis yang sedih melihat dari sisi minimnya daya kritis kaum muda dewasa ini. Bukan hanya terjebak dengan budaya barat yang serba individualistik serta variannya (apatis, pragmatis, hedonis dan sejenisnya), namun juga, tersandung batu budaya timur tengah yang negatif. Lihat saja maraknya gerakan fundamentalisme islam(Wahabisme, HTI serta sayap-sayapnya) memang memperihatinkan kondisi kaum muda di akhir tahun 2016 ini. Belum lagi merebaknya budaya “pokoknya” yang hingar-bingar di tubuh mahasiswa-mahasiswi.
Pernyataan yang paling akhir ini kemudian mejadi fokus utama tulisan ini, bukan pesimisme apalagi traumatik atas tindakan non populis yang ingin di bahas penulis. Melainkan lebih ke arah bacaan diri dalam menyikapi kondisi bangsa kita, sebut saja deklarasi indonesia sebagai bagian dari ASEAN COMUNITY di awal tahun 2015. Hal ini memungkinkan perdagangan bebas antar negara kawasan asean, yang menuntut masyarakatnya untuk bebas aktif dalam perdagangan lintas kawasan. Tentunya kaum muda pun mau tak mau mesti menghadapi kondisi demikian. Bukan untuk menakut-nakuti, namun inilah kondisi dan fakta yang sementara dihadapi kaum muda.

REUNI MASA LALU
Sebelum sumpah pemuda di kumandangkan pada tahun 1928. Masih sedikit kaum muda yang dapat menyadari betapa pentingnya arti sebuah kemerdekaan. Merdeka dari penjajahan fisik, mental dan pikiran dari bangsa asing. Bangsa belanda tepatnya. Hal itu dikarenakan minimnya kaum muda yang dapat mengenyam dunia pendidikan. Kalaupun ada, itu dikarenakan mendapatkan bekal dari pesantren yang notabene adalah model pendidikan asli dan khas indonesia. Model pendidikan agama yang diajarkan oleh kyai baik di teras rumahnya maupun gedung pesantren yang serba kekurangan fasilitas. Bagi mereka yang mendapat didikan di sekolah hanyalah anak dari bangsawan yang sebagian besar menjadi antek kolonial saat itu. Berdasarkan politik etis 1901 yang diterapkan pemerintah hindia belanda (nama indonesia ketika itu) yang juga memprioritaskan pendidikan selain irigasi dan imigrasi. Pendidikan seadanya itu pun menjadi modal awal kaum muda terpelajar untuk mengkonsepsikan suatu cita-cita berdirinya kedaulatan rakyat yang mesti dipimpin oleh rakyat indonesia pula. Cita-cita kemerdekaan dari penjajahan pun terngiang meski baru hanya sekedar konsepsi sebagian orang saja. Selebihnya, kaum awam yang tak mendapatkan pemutar balikan kesadaran tentunya terus menjadi babu di negri sendiri.
Kaum muda yang turut andil dalam sumpah sakral itu kemudian melahirkan generasi emas sesudahnya. Generasi yang sudah lebih terdidik baik di dalam maupun luar negri yang terhimpun dalam berbagai macam organisasi sosial kemasyarakatan. Berpolitik di zaman itu awal tahun 1945 adalah mendedikasikan diri menjadi pelopor pergerakan nasional menuju kemerdekaan dari penjajahan jepang dan keinginan belanda yang dibantu sekutu untuk menguasai kembali indonesia yang baru seumur jagung di proklamirkan oleh mereka, anak muda terdidik yang punya daya krtis di atas rata-rata. Punya bacaan geopolitik dunia, geostrategi luar biasa sehingga mampu mengambil alih negeri nenek moyang menjadi milik anak bangsanya sendiri.
Bukan untuk nostalgia kebagahagiaan semata, perjuangan memerdekakan bngsa indonesia pun di iktui dengan pelbagai perang mempertahankan kemerdekaan. Lahirlah kemudia pertempuran surabaya yang diperingati menjadi hari pahlawan nasional yang jatuh pada 10 november. Waktu berlalu, perang dingin antara blok barat yang dikomandoi amerika serikat melawan blok timur yang di nahkodai oleh uni soviet pun menjadikan indonesia sebagai medan pertempurna. Bukan perang fisik lagi, perang digin lebih mengarah ke perang hegemoni budaya dan ekonomi. Dimana ketersediaak sumber daya alam yang dimiliki indonesia menjadi salah stau penyebabnya. Medan pertempuran menjadi tak hangat lagi ketika runtuhnya tembok berlin yang kemudian diikuti kemenangan blok barat. Hal itu  menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintahan indonesia di kemudian hari. Betapa tidak, indonesia yang baru merdeka secara terang-teragan membeberkan gerakan non blok  yang tidak ingin berpihak sesalah satu blok yang sementara berperang. Namun faktanya kemudian adalah, setelah kemengangan amerika dan antek-anteknya, secara drastis menjadi negara adi kuasa yang meruntuhkan soviet. Terpecah menjadi beberapa negara dikala itu.
Hegemoni globalisasi sebagai bentuk imperialisme baru dan kolonialisme dalam jenis yang berbeda pun menjadi tantangan tersendiri. Hal demikian tentu tidak lepas dari peranan kaum muda 1966 yang turut meramaikan perpolitikan indonesia. Tumbangnya bung karno dari tahta negri ini bukan tanpa alasan dari imbas perang dingin. Keberpihakan kepada PKI menjadis enjata untuk militer yang di pimpin soeharto mengambil alih komando indonesia. Tanpa terkecuali, kaum mud ayang ikut berafiliasi di dalamnya pun ikut mendidirikan rezim otoriter yang selanjutnya runtuh setelah perang antar blok itu usai. Kaum muda 1998 kemudian lahir dengan konsep reformasi indonesia. Namun reformasi yang setengah hati dan di bungkus dengan niat memperkaya diri itupun melahirkan banyak perlawanan kaum muda. Selepas dari itu hingga detik ini, kaum muda masi terjebak pada patahan-patahan gerakan yang kemudian mengheningkan diri dalam dekapan globalisasi. Setelah itu tak lagi banyak kaum muda yang menjadi pegiat sosial, ikut merasakan penderitaan rakyat miskin, buruh tani, dan kaum mustadafin lainnya. Masih ada, walaupun sedikit. Organisasi-organisasi kepemudaan hanya menjadi sarang agenda seremonial belaka. Jarang sekali melahirkan aktivis berjiwa populis. Meskipun ada, mereka hampir punah dan perlu pelestarian. Tulisan ini dimaksudkan untuk merenungkan kembali sudah apa yang kaum muda deawasa ini perbuat untuk bangsaya. Mungkin saja di luar sana ada anak muda yang masih aktif berdiskusi dan ikut peduli akan kondisi bangsa ini. Semoga...

SIAPA KITA (?)
Bagi mereka yang masih sering berdiskusi, tentu paham betul mengenai pengantar yang penulis sajikan di atas. Bahwa ada semacam diktum yang melekat di diri kaum muda saat ini yaiti ” kaum muda harapan bantal”. Anggapan negatif demikian memang patut di jawab, bukan kemudian sekedar jawaban dalam bentuk rangkain teori yang hanya menjadi analisa belaka. Masih segar di ingatan kita memang, geliat kaum muda di masa-masa lalu baik dengan sumpah pemudanya, proklamasi kemerdekaannya, perang fisik melawan penjajah, peran mengisi kemerdekaan, hingga perlawanan pada kaum tua, perlawanan pada otoritarianisme militer, dan bahkan reformasi semu yang masih menggerogoti hingga kini. Kata “KITA” yang mesti di embankan pada kaum muda saat ini adalah bukan kita yang bekonsepsi sumpah pemuda, bukan kita yang melawan penjajahan belanda dan jepang, bukan kita yang memproklamasikan kemerdekaan, bukan kita yang menumbangkan rezim orde lama dan orde baru, buka kita yang menginisiasi reormasi. Kata “kita” yang coba penulis uraikan adalah kita yang telah hadir kemasa muda ini, dengan banyak perangkap yang di hadapi. Baik itu di internal, kita menghadapi kondisi disintegrasi bangsa dengan maraknya korupsi, kolusi, dan nepotisme. Maraknya kunsumerisme, idividualistik, apatisme, pragmatisme, serta hedonisme. budaya serba instan yang oleh penulis di namai budaya pokoknya[3]. Di eksternal kita menghadapi hegemoni westernisasi yang di kumandangkan oleh globalisasi dengan term segalanya serba cepat (fordisme, mc donaldisme dan internetisme), belum lagi toleransi umat beragama sedang di porakporandaan dengan maraknya gerakan fundamental dan liberal yang kian merajalela.

KENAPA KITA  (?)
Lantas bagaimana menghadapi sekumpulan problematika yang sementara di hadapi ini kalau bukan dengan belajar. Belajar dari masa lalu, baik yang tersirat maupun tersurat. Belajar memahami keadaan serta mengambil langkah taktis strategis guna penyelamatan kemerdekaan yang telah susah paya di raih di masa lampau. Kita adalah kaum muda yang mengemban amanah dari pendahulu untuk mengisi kemerdekaan dengan terus belajar dari pengalaman masa lalu, yang buruk jangan di ulangi, yang baik di ambil, pemahaman akan sistem dunia yang semakin hari semakin menjadi-jadi tentunya perlu menjadi kesadaran bersama. Sistem dunia yang penulis maksud adalah adanya keinginan negara-negara kuasa global yang banyak tergabung dalam organisasi ekonomi politik seperti UNI EROPA, UNESCO, SANGHAI CORPORATION, MNC group, TNC group yang terus menerus melancarkan hegemoni untuk negara-negara semi pinggiran seperti indonesia menjadi tetap tergantung sehingga memberikan kebebasan untuk kuasa modal asing tetap mengeksploitasi sumber daya alam kita yang kaya.
Karena kita anak muda masa kini pun harus cerdas menghadapi tantangan-tantangan yang ada maka penting kiranya mempertajam bacaan kepentingan dunia terhadap negeri kita. Mesti menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dengan mengambil baiknya untuk melawan sisi buruknya. Karena sebaik apapun globalisasi yang menjadi tema utama hegemoni barat terdapat intrik-intrik politik ingin menguasai cadangan ssumber daya alam kita. Negeri barat yang sudah terlanjur industri seperti amerika, eropa dan sebagainya tentu memerlukan bahan mentah untk megelola dan menjalankan pabrik-pabriknya. Pertarungan antar sesama mereka pun tak ayal di jumpai dari sabang sampai merauke. Perebutan hasil bumi seperti minyak dan gas, emas dan tambang-tambang lainnya. Hasil hutan sebagai keniscayaan negeri tropis yang kita miliki pun mestinya menjadi patut di waspadai kelangsungannya.
Hegemoni eksternal yang kita hadapi tak hanya itu, seperti halnya negara-negara semi pinggiran seperti indonesia, kita di himpit oleh dua samudera. Samudera pasifik dan hindia -atlantk, yang tentunya negara-negara yang mendiami seputaran samudera itupun terdapat pertempuran-pertempuran budaya. Belum lagi di sisi ekonomi, china sebagai pesaing amerika mesti diwaspadai ketangguhan ekonominya, hegemoni komunis merak pun tak boleh lepas dari perhatian. Kita pernah mengalami benturan dengan komunis sebelumnya. Jangan sampai gerakan 30 september PKI terulang. Di sisi lain australia sebagai satelit negeri-negeri barat pun menjadi bahan tersendiri untuk di perhatikan.
Pasar bebas yang telah berlangsung ini mesti di isi oleh kaum muda yang serba kreatif, dan inovatif dalam pelbagai bidang. Penulis yakin kata “kita” mesti dielaborasi mejadi sebuah kekuatan kaum muda yang tetap peduli terhadap kondisi bangsanya. Meskipun demikian, patut kita ambil hikmah dari masa lalu guna menapaki jalan masa kii dan masa depan nanti.
Kenapa kita, karena suatu perlawanan yang dilakukan secara sendiri-sendiri hanya akan melahirkan deretan kekalahan. Sudah bukan zamannya lagi ada pahlawan kesendirian. Yang ada adalah kerja kolektif. Ada adigium yang patut kita ambil pelajarannya yaitu” bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” ini menegaskan bahwa,d ibutuhkan kebersamaan kaum muda untu melakukannya. Di butuhkan kesadaran kolektif di dalam mengisi kemerdekaan ini.

UNTUK APA KITA (?)
Dalam pelbagai kesempatan, perlu kita ulangi secara terus-menerus kesadarn kritis itu mesti dibangun atas dasar proses yang tidak mudah. Membekali diri dengan keterampilan yag serba canggih adalah keniscayaan yang harus di hadapi. Menggunakan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi untuk melawan hegemoni tekhnologi adalah bagian dari solusi alternatifnya. Sudah barang tentu diskusi mengenai kesadaran diri kaum muda adalah wajib hukumnya. Dalam ranah organisasi pun demikian sebab, berbeda antara kaum muda yang terkafer dalam sebuah organisasi dengan mereka yang tidak berorganisasi. Bedanya adalah ketika berada dalam suatu organisasi, kaum muda tentu akan di hadapkan pada pilihan mengikuti ideologi yang di perjuangkan organisasi tersebut shingganya. Kesadaran akan dapat di bektuk di dalamnya. Orientasi kegiatan-kegiatannya pun akan termaktub dalam anggaran dasar da anggaran rumah tangganya. Pun hal demikian harus di tapaki secara serius guna untuk menghadapi segala kemungkinan.
Membekali diri dengan mengisi nalar mental yang tidak inlander (budak/jajahan) adalah salah satu tujuan adanya kata “kita”. Meski dengan terseok-seok menghadapinya dan butuh nafas panjang melakukannya, dengan bersandar kepada cita-cita luhur bangsa kesemuanya akan dapat di hadapi. Semboyan bhineka tunggal ika dapat mejadi spirit membangun negeri ini dengan mencintai perbedaan sebagai konsekwensi bagsa yang plural dan multikultural. Negera kesatua repoblik indonesia adalah sebuah negara yang d persatuka air laut sungai dan bukan dipisahkan olehnya. Kita adalah negeri kepulauan dengan penduduk muslim terbanyak dunia, dan negeri yang mengakui kebebasan beragama menurut kepercayaannya masing-masing adalah negeri dengan modal besar menghadapi segala tantangan-tantangan nanti. Dan kata “kita” dalam hal ini menegaskan kaum mudanya yang hidup di masa sekarang adalah “kita” yang melawan penindasan, mempelopori gerakan mengisi kemerdekaa dengan jalan mencerdaskan generasi kita. Terus belajar dengan proses yang kita cintai, belajar mendisiplinkan diri, belajar memaknai kemerdekaan lantas mengisinya dengan kegiatan-kegiatan yang berpotensi melahirkan kemanusiaan yang adil dan beradap, persatuan negara bangsa indonesia, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia dengan berasas pada perdamaian abadi dan tentunya dengan spirit ketuhanan yang maha esa.
Kita adalah kita yang ada saat ini, kita yang maju, kita yang cerdas, kita yang canggih yang tau berterima kasih pada pendahulunya. Yang bebuat kebaikan dengan tidak pandang bulu, suku, ras, agama dan lainnya. Karena kita adalah kaum muda inonesia yang senantiasa mawas diri dalam menghadapi beaneka ragaman. Selalu mau berbuat untuk indonesia tercinta. Karena “kita adalah kaum muda masa kini dan akan bermanfaat untuk bangsa ini”
PENUTUP
Berhenti mengeluh dan beproses terus adalah pengejewantahan dari nilai-nilai pancasila yang bercita-cita luhur dalam mengisi kemerdekaan. Menjadi pelopor pergerakan bangkit kaum muda adalah keniscayaan yang tak bisa di hindari. Pelopor pergerakan dalam maksud yang mulia, yakni mengisi kemerdekaan dengan pelbagai agenda perubahan untuk indonesia raya.  Karena kita adalah kaum muda.


[1] Esay untuk diskusi kaum muda
[2] Penulis adalah mahasiswa pasca sarjana IAIN Gorontalo dan pegiat diskusi kaum muda
[3] Budaya pokoknya adalah budaya serba pokoknya, pokoknya ini dan pokoknya itu. Tak ada penghargaan atas proses yang dialami. Melainkan menitik beratkan pada hasil saja. Lihat dalam BUDAYA POKOKNYA, Tulisan ini bisa di dapat di rumah belajar densus 99.