Minggu, 22 November 2015

FOSIL DAN NALAR MENTAL MAHASISWA BOLMUT[1]



Pola mahasiswa bolmut di Gorontalo(2010-2015)
Oleh Inal Datunsolang[2]
Selama ini kita terus di belenggu dengan paham yang “ekstrim”, tentang kuliah. Paham itu berasal dari orang tua kita sendiri. Memang setiap orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi orang sukses. Akan tetapi, kesuksesan yang diinginkan orang tua(yang berasal dari bolmut) tersebut adalah ketika anaknya mampu menyelesaikan study-mendapat pekerjaan yang layak(PNS)- kemudian menikah. Hahaha…. Memang kebutuhan ekonomi adalah hal priemer yang harus di atasi. akan tetapi bukan hanya itu, di saat berproses menjadi mahasiswa tidak hanya paradigm itu yang dapat di gunakan. Uniknya ini terjadi di kalangan orang tua (menengah kebawah) yang mengirimkan anak mereka ke bumi gorontalo. Dan cita-cita “mulia” inipun menjadi semangat setiap mahasiswa yang berasal dari kabupaten JUARA (slogan pemerintah) bolaang mongondow utara. Semakin menarik ketika penulis dapati, argumentasi di atas hampir menjadi bahan cerita di kalangan mahasiswa yang sering nongkrong di kampusnya masing-masing.
Uneversitas negri gorontalo(UNG). Institut agama islam negri gorotalo(IAIN) dan universitas Ichsan gorontalo(UNISAN) adalah tiga perguruan tinggi yang menajdi sasaran utama para orang tua dalam menguliahkan anaknya. Tanpa mengesampingkan universitas muhamadiyyah gorontalo (UMGOR) sekolah tinggi ilmu kesehatan(STIKES), perguruan tinggi terakhir ini banyak di minati orang tua yang berlatar belakang pendapatan yang cukup(maklum biayanya lumayan mahal). Dari upaya penelusuran yang telah penulis lakukan, memang disadari patut menjadi kegelisahan bersama. Sebabnya dengan motivasi (sekedar) untuk memenuhi kebutuhan hidup nantinya para mahasiswa ini kemudian melupakan hal yag cukup urgen dalam berproses menemukan jati dirinya. Karena menanggalkan semangat berpengetahuan selama hayatnya.
Menuntut ilmu tidak hanya sekedar untuk mendapatkan pekerjan tetap sebagai abdi Negara (PNS). Melainkan untuk memaksimalkan potensi yang telah tuhan berikan. Sebagaimana tujuan ilmu itu adalah untuk di amalkan. Menjadi manusia yang berbudi luhur, cakap, bertanggung jawab akan ilmunya serta menjadi contoh atau teladan yang baik sebagaimana yang telah rasulullah ajarkan seakan hanya menjadi ilusi.  Selain hal tersebut, kecenderungan untuk aktif dalam berorganisasi, terlibat dalam kegiatan-kegiatan bermanfaat, memaksimalkan otak dengan membaca, diskusi dan dialog pun menjadi barangg langka yang di temukan didalam diri mahasiswa bolmut. Ini penulis sadari adalah gejala yang semakin marak dalam kalangan mahasiswa bolmut dewasa ini. Fenomena tersebut bukan tanpa dasar dan fakta, melainkan gejala yang telah penulis amati di mulai dari tahun 2010 hingga 2015. Lima tahun terakhir ini penulis bermukim di bumi gorontalo tidak sekedar menyelesaikan kewajiban sebagai hamba akademik melainkan juga terus menerus mengamati keadaan mahasiswa bolmut yang tentunya sekampung halaman dengan penulis.
 Berbeda dengan angkatan sebelmunya 2010 ke belakang, terdapat mahasiswa-mahasiswi yang cukup popular dengan keilmuan yang mendalam dan aksi sosial yang mereka lakukan. Sebut saja pendiri dan penggagas KPMIBU yang dulu nama organisasi tersebut adalah gerakan mahasiswa BINADOU(nama ini di ambil berdasarkan gabungan dari dua eksuap kerajaan di bolmut yaitu BINTAUNA dan KAIIPANG). Sebut saja arter datunsolang dan angkatannya fadli binolombangan, beserta pendekar-pendekar lain yang tak bisa di pungkiri adalah tokoh mahasiswa yang berasal dari bolmut seperti armin humalidi, arp jahala, antto lenda, sukri humalidi, julkifli, budi, ija, om teo, liem antogia. Mereka terdeteksi berasal dari perguruan tinggi UNG, tidak hanya itu, di IAIN pun terdapat nama-nama yang tak kalah popular semisal, fathan boulu, upik che goma, syafar pohontu, onal lamunte, farhan, frans ali dan pengikut setia mereka yaitu inal datunsolang, paslah patingki, firman stion, kamil, iki family, nawir  dll.
Bukan salah orang tua memang, ketika menitipkan anak mereka ke bumi goronttalo. Tetapi dasar anaknya yang tidak mau berproses dengan benar sajalah sehingga fenomena ini cukup menjadi potensi buruk yang akan menjadi bom waktu ketika tidak di tangani. Memang benar terdapat organisasi kerukunan mahasiswa Indonesia kabupaten bolaang mongondow utara di gorontalo, akan tetapi organisasi ini seakan hanya menjadi tempat ngumpul dan bernostalgia dengan kampong halaman. Tanpa kemudian melahirkan ide untuk bagaimana membendung arus hegemoni individualisti yang di bawa globalisasi.
Di loaklitas kampus iain sultan amai gorontalo pun terdapat penyakit mematikan yang oleh penulis di beri nama MAHASISWA FOSIL, hehe memang benar adaya. Banyak terdapat mahasiswa dalam perguruan yang penulis sebu barusan. Akan tetapi tidak banyak dari mereka yang hanya sekedar ke kampus pada jam perkuliahan saja. Di waktu luang mereka banyak menghabiskan waktu untuk bersantai di kos kosan dan bahkan hanya duduk melamun di pigggiran jalan. Daya kratifitas yang rendah juga mnenjadi faktor  utama menyebabkan penyakit FOSIL ini.
Banyak mahasiswa bolmut yang terus menerus menguras keringat orang tua mereka di kampong halaman dengan menggunakan uang kiriman untuk berfoya-foya, membeli rokok, jalan jalan, bahkan tidak jarang uang kiriman orang tua mereka di gunakan untuk membeli minuman keras, mabuk2an hingga mengalami kecelakaan motr, berkelahi dengan alasan tak jelasm(akibat mabuk mungkin) bahkan tidak jarang dari mereka yang berkelahi hanya karena persoalan romantisme (Alhamdulillah penulis belum mengalaminya).
Fokmma yang katanya forum organisasi yang ada di lingkungan iain pun eblum menjadi solusi guna untuk mengaktualisasikan diri mereka. Buktinya masih banyak terdapat mahasiswa bolmut yang tidak terkafer di dalam forum tersebut.  Kalaupun ada yang sudah terkader, mereka hanya menjadi pelengkap penderitaan forum tersebut dengan bersikap acuh tak acuh dengan kondisi diri mereka sendiri.
Selain KPMIBU dan FOKMMA, penulis mendapat angin segar dengan adaya organisasi yang bernama IMAN ikatan mahasiswa totabuan, dimana dalam keanggotaannya terdapat mahasiswa yang berasal dari bolmut. Namun sayangnya organisasi ini pun menjadi semacam organisasi pengikat tanpa arah dan tujuan. Selain itu juga menjadi pelengkap derita bahkan tidak dapat di ingkari pun banyak yang terhegemoni dengan situasi baru dimana kekagetan dengan suasana yang belum mereka alami sebelumnya.
Kritikan ini bukan di arahkan untuk memulai konflik sesama warga bolmut yang berada di bumi gorontalo, melainkan bacaan diri dengan penyakit FOSIL yang semakin marak menyebar dan hinggap dalam diri mahasiswa bolmut. Penulis dengan penuh kesadaran menyebut FOSIL sebagai penyakit diri yang melanda hamper, ingat… hampir sebagian mahasiswa bolmut. Bagi mereka yang merasa aktif di dalam kegiatan2an baik itu KPMIBU, FOKMMA, IMAN dan entah apa namanya organisasi mahasiswa bolmut yang berada di gorontalo lain, penulis menghimbau agar kiranya memaksimalkan peran organisasi sebagai wadah untuk mengeksplorasi diri dalam mengembangkan ide ide kreatif. Sampai dengan saat ini, yang penulis dapati adalah perebutan kekuasaan, siakp acuh tak acuh yang terus berkembang di tubuh organisasi mahasiswa bolmut.
Baiknya dibuat diskursus terkait beberapa pendapat penulis di atas. Guna untuk menemukan solusi tepat dalam menghadapi penyakit FOSIL ini.
 Apa itu FOSIL?
1)      Fosil adalah pemikiran untuk tetap mengunci diri dari berbuat, berbincang dan berargumentasi kritis layaknya mahasiswa sebagai manusia akademis
2)      Fosil adalah sikap berdiam diri seperti halnya benda mati
3)       Fosil adalah sikap tak peduli dengan keadaan sesame mahasiswa yang berasal dari bolmut
4)      Fosil adalah tahapan diri menuju ketidak mandirian dalam mengubah tatanan hidup ketika kelar nanti dalam bermahasiswa
5)      Fosila adalah penyakit yang membuat nalar mental mahasiswa dari bolmut menjadi jauh dari daya kreatifitas mendobrak ketidakmampuan diri untuk berkembang menjadi layaknya tokoh2 mahasiswa pemuda di zaman pergerakan nasional dahulu.
Sejarah tentang perlawanan mahasiswa di tiap era besarnya menjadi contoh actual dalam melawan penyakit fosil. Dimana setiap organisasi mahasiswa terus beraktifitas akademik disamping bersuara dalam pola perputaran zaman. Sebagaimana yang tercantum dalam catatan perjalanan Negara repoblik Indonesia, dimana sumpah pemuda pada tahun 1908
 Mengukir pijakan awal perlawanan semua elemen muda bangsa untuk melawan penjajahan. Sikap dan tindakan mereka pun menjadi acuan lahirnya sumpah mahasisa Indonesia di tahun 1998 saat mengulingkan kekuasaan pada saat itu. Soeharto pun tumbang layaknya para penguasa-penguasa dunia yang bersikap otoriter. Sedikit bernostalgia, perlawanan kaum muda memang membawa hawa baru dalam dunia akademik. Di lokalitas daerah gorontalo misalnya. Aksi aksi perlawanan elemen muda pun pernah terjadi. Dimana mengecam dan mengutuk kebijakan pemerintah daerah adalah bukti kongkrit. Pada saat itu mahasiswa bolmut terdahulu pun ikut ambil bagian dalam perlawanan tersebut.
Pertanyaan besarnya bukan pada menghakimi kawan, teman, atau bahkan sahabat anda. Melainkan untuk diri anda sendiri. Sudahkan anda terbebas dari penyakit FOSIL ini?
Kerangkan penyakit yang penulis sebut di atas, adalah bagian penting untuk dilawan. Hal itu di sebabkan catatan kritis ini akan menjadi sumber referensi bagi mahasiswa bolmut medatang. Sebagaimana kata pepatah. “ hidup tak ubahnya seperti roda. Berputar terus menerus” mengingat pentingnya argumentasi mengenai situasi nalar dan mental mahasisswa bolmut ini kiranya penulis berharap jangan ada lagi penyakit yang akan menghiggapi mahasisswa bolmut di masa depan. Sebab, catatan ini berfungsi selain informasi mengenai keadaan mahasiswa bolmut saat ini (2010-2015) juga sebagai alat baca mahasiswa di masa depan untuk tidak mengulangi kesalahan yang terjadi. Menjadi generasi yang terus kritis dan kreatif adalah bagian solusi yang ti tawarkan oleh penulis.
Kritis dalam artian membaca situasi secara tajam, mencermati isu dan propaganda, melawan bentuk kebijakan yang sifatnya mengekang, menindas bahkan merampas hak-hak mahasiswa. Tidak boleh berhenti sampai disitu, terus melakukan pengkaderan guna memperbanyak pasukan adalah tindakan nyata yang harus di ambil. Pun di bumbuhi dengan aksi aksi sosial. Sehingga ilmu yang didapat tidak hanya menjadi perdebatan belaka melainkan amalan yang seharusnya.  
 Apakah anda adalah salah satu FOSIL yang menghuni salah satu perguruan tinggi di gorontalo?



[1] materi ini di sajikan dalam diskusi rutin dan di setiap kesempatan yang penulis punyai
[2] penulis dalah mahasiswa pasca IAIN Gorontalo yang sedang mencari pacar

Jumat, 20 November 2015

SEKILAS TENTANG “KITA”[1]



bagian 1
INAL DATUNSOLANG[2]
PENGANTAR
Seumpamanya bung karno hidup di masa kini, lebih tepatnya 2015 menjelang 2016, dapat dipastikan beliau akan geleng-geleng kepala melihat kaum mudanya. Kaum muda yang dipercaya dan diyakini sebagai penerima tongkat estafet mengisi kemerdekaan dengan tidak terjerumus pada perangkap globalisasi justeru malah menjadi budak-budaknya. Mungkin bagi mereka, anak muda yang hidup di masa awal menjelang kemerdekaan mendedikasikan masa mudanya untuk mengkonsepsikan kemerdekaan juga akan tertawa terbahak-bahak melihat fakta kini yang melingkupi kaum mudanya yang sudah tak tahu bagaimana manisnya kebersamaan, indahnya perbedaan suku bangsa, adat budaya, serta agama yang diikat dalam sebuah sumpah suci. Sumpah pemuda yang di deklarasikan oleh kaum muda yang terorganisir dalam jong java, jong celebes, jong sumatera, jong ambon dll. Dan mungkin bagi mereka, anak muda yang hidup di masa awal kemerdekaan dan turut mengabdikan dirinya dalam perang mempertahankan kemerdekaan akan pusing tujuh keliling, setelah tahu bahwa tujuh dasawarsa kemudian anak mudanya menjadi serba acuh tak acuh dengan kondisi bangsanya sendiri.
Sekali lagi mungkin, bagi mereka, anak muda yang hidup di masa penggulingan rezim orde lama, penggulingan rezim orde baru yang otoritarianisme itu, serta anak muda yang ikut mengisi era reformasi akan malu yang teramat sangat, ketika tahu dengan pasti bahwa kaum mudanya lebih takut kehilangan pulsa data ketimbang buku.  Pernyataan tersebut bukan sebuah generalisasi negatif atas pesimisme yang dalam mengenai kaum muda dewasa ini.. Melainkan sebuah kritik yang mesti dijawab dengan konsep gagasan dan bukti nyata berupa tindakan-tindakan yang mengarah pada populisme elan vital kaum muda dalam memainkan peranannya sebagai sebuah entitas yang memiliki spirit dan potensi  penggerak, penggebrak dan pendobrak.
Atau mungkin, keresahan demikian hanya dirasa penulis yang sedih melihat dari sisi minimnya daya kritis kaum muda dewasa ini. Bukan hanya terjebak dengan budaya barat yang serba individualistik serta variannya (apatis, pragmatis, hedonis dan sejenisnya), namun juga, tersandung batu budaya timur tengah yang negatif. Lihat saja maraknya gerakan fundamentalisme islam(Wahabisme, HTI serta sayap-sayapnya) memang memperihatinkan kondisi kaum muda di akhir tahun 2016 ini. Belum lagi merebaknya budaya “pokoknya” yang hingar-bingar di tubuh mahasiswa-mahasiswi.
Pernyataan yang paling akhir ini kemudian mejadi fokus utama tulisan ini, bukan pesimisme apalagi traumatik atas tindakan non populis yang ingin di bahas penulis. Melainkan lebih ke arah bacaan diri dalam menyikapi kondisi bangsa kita, sebut saja deklarasi indonesia sebagai bagian dari ASEAN COMUNITY di awal tahun 2015. Hal ini memungkinkan perdagangan bebas antar negara kawasan asean, yang menuntut masyarakatnya untuk bebas aktif dalam perdagangan lintas kawasan. Tentunya kaum muda pun mau tak mau mesti menghadapi kondisi demikian. Bukan untuk menakut-nakuti, namun inilah kondisi dan fakta yang sementara dihadapi kaum muda.

REUNI MASA LALU
Sebelum sumpah pemuda di kumandangkan pada tahun 1928. Masih sedikit kaum muda yang dapat menyadari betapa pentingnya arti sebuah kemerdekaan. Merdeka dari penjajahan fisik, mental dan pikiran dari bangsa asing. Bangsa belanda tepatnya. Hal itu dikarenakan minimnya kaum muda yang dapat mengenyam dunia pendidikan. Kalaupun ada, itu dikarenakan mendapatkan bekal dari pesantren yang notabene adalah model pendidikan asli dan khas indonesia. Model pendidikan agama yang diajarkan oleh kyai baik di teras rumahnya maupun gedung pesantren yang serba kekurangan fasilitas. Bagi mereka yang mendapat didikan di sekolah hanyalah anak dari bangsawan yang sebagian besar menjadi antek kolonial saat itu. Berdasarkan politik etis 1901 yang diterapkan pemerintah hindia belanda (nama indonesia ketika itu) yang juga memprioritaskan pendidikan selain irigasi dan imigrasi. Pendidikan seadanya itu pun menjadi modal awal kaum muda terpelajar untuk mengkonsepsikan suatu cita-cita berdirinya kedaulatan rakyat yang mesti dipimpin oleh rakyat indonesia pula. Cita-cita kemerdekaan dari penjajahan pun terngiang meski baru hanya sekedar konsepsi sebagian orang saja. Selebihnya, kaum awam yang tak mendapatkan pemutar balikan kesadaran tentunya terus menjadi babu di negri sendiri.
Kaum muda yang turut andil dalam sumpah sakral itu kemudian melahirkan generasi emas sesudahnya. Generasi yang sudah lebih terdidik baik di dalam maupun luar negri yang terhimpun dalam berbagai macam organisasi sosial kemasyarakatan. Berpolitik di zaman itu awal tahun 1945 adalah mendedikasikan diri menjadi pelopor pergerakan nasional menuju kemerdekaan dari penjajahan jepang dan keinginan belanda yang dibantu sekutu untuk menguasai kembali indonesia yang baru seumur jagung di proklamirkan oleh mereka, anak muda terdidik yang punya daya krtis di atas rata-rata. Punya bacaan geopolitik dunia, geostrategi luar biasa sehingga mampu mengambil alih negeri nenek moyang menjadi milik anak bangsanya sendiri.
Bukan untuk nostalgia kebagahagiaan semata, perjuangan memerdekakan bngsa indonesia pun di iktui dengan pelbagai perang mempertahankan kemerdekaan. Lahirlah kemudia pertempuran surabaya yang diperingati menjadi hari pahlawan nasional yang jatuh pada 10 november. Waktu berlalu, perang dingin antara blok barat yang dikomandoi amerika serikat melawan blok timur yang di nahkodai oleh uni soviet pun menjadikan indonesia sebagai medan pertempurna. Bukan perang fisik lagi, perang digin lebih mengarah ke perang hegemoni budaya dan ekonomi. Dimana ketersediaak sumber daya alam yang dimiliki indonesia menjadi salah stau penyebabnya. Medan pertempuran menjadi tak hangat lagi ketika runtuhnya tembok berlin yang kemudian diikuti kemenangan blok barat. Hal itu  menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintahan indonesia di kemudian hari. Betapa tidak, indonesia yang baru merdeka secara terang-teragan membeberkan gerakan non blok  yang tidak ingin berpihak sesalah satu blok yang sementara berperang. Namun faktanya kemudian adalah, setelah kemengangan amerika dan antek-anteknya, secara drastis menjadi negara adi kuasa yang meruntuhkan soviet. Terpecah menjadi beberapa negara dikala itu.
Hegemoni globalisasi sebagai bentuk imperialisme baru dan kolonialisme dalam jenis yang berbeda pun menjadi tantangan tersendiri. Hal demikian tentu tidak lepas dari peranan kaum muda 1966 yang turut meramaikan perpolitikan indonesia. Tumbangnya bung karno dari tahta negri ini bukan tanpa alasan dari imbas perang dingin. Keberpihakan kepada PKI menjadis enjata untuk militer yang di pimpin soeharto mengambil alih komando indonesia. Tanpa terkecuali, kaum mud ayang ikut berafiliasi di dalamnya pun ikut mendidirikan rezim otoriter yang selanjutnya runtuh setelah perang antar blok itu usai. Kaum muda 1998 kemudian lahir dengan konsep reformasi indonesia. Namun reformasi yang setengah hati dan di bungkus dengan niat memperkaya diri itupun melahirkan banyak perlawanan kaum muda. Selepas dari itu hingga detik ini, kaum muda masi terjebak pada patahan-patahan gerakan yang kemudian mengheningkan diri dalam dekapan globalisasi. Setelah itu tak lagi banyak kaum muda yang menjadi pegiat sosial, ikut merasakan penderitaan rakyat miskin, buruh tani, dan kaum mustadafin lainnya. Masih ada, walaupun sedikit. Organisasi-organisasi kepemudaan hanya menjadi sarang agenda seremonial belaka. Jarang sekali melahirkan aktivis berjiwa populis. Meskipun ada, mereka hampir punah dan perlu pelestarian. Tulisan ini dimaksudkan untuk merenungkan kembali sudah apa yang kaum muda deawasa ini perbuat untuk bangsaya. Mungkin saja di luar sana ada anak muda yang masih aktif berdiskusi dan ikut peduli akan kondisi bangsa ini. Semoga...

SIAPA KITA (?)
Bagi mereka yang masih sering berdiskusi, tentu paham betul mengenai pengantar yang penulis sajikan di atas. Bahwa ada semacam diktum yang melekat di diri kaum muda saat ini yaiti ” kaum muda harapan bantal”. Anggapan negatif demikian memang patut di jawab, bukan kemudian sekedar jawaban dalam bentuk rangkain teori yang hanya menjadi analisa belaka. Masih segar di ingatan kita memang, geliat kaum muda di masa-masa lalu baik dengan sumpah pemudanya, proklamasi kemerdekaannya, perang fisik melawan penjajah, peran mengisi kemerdekaan, hingga perlawanan pada kaum tua, perlawanan pada otoritarianisme militer, dan bahkan reformasi semu yang masih menggerogoti hingga kini. Kata “KITA” yang mesti di embankan pada kaum muda saat ini adalah bukan kita yang bekonsepsi sumpah pemuda, bukan kita yang melawan penjajahan belanda dan jepang, bukan kita yang memproklamasikan kemerdekaan, bukan kita yang menumbangkan rezim orde lama dan orde baru, buka kita yang menginisiasi reormasi. Kata “kita” yang coba penulis uraikan adalah kita yang telah hadir kemasa muda ini, dengan banyak perangkap yang di hadapi. Baik itu di internal, kita menghadapi kondisi disintegrasi bangsa dengan maraknya korupsi, kolusi, dan nepotisme. Maraknya kunsumerisme, idividualistik, apatisme, pragmatisme, serta hedonisme. budaya serba instan yang oleh penulis di namai budaya pokoknya[3]. Di eksternal kita menghadapi hegemoni westernisasi yang di kumandangkan oleh globalisasi dengan term segalanya serba cepat (fordisme, mc donaldisme dan internetisme), belum lagi toleransi umat beragama sedang di porakporandaan dengan maraknya gerakan fundamental dan liberal yang kian merajalela.

KENAPA KITA  (?)
Lantas bagaimana menghadapi sekumpulan problematika yang sementara di hadapi ini kalau bukan dengan belajar. Belajar dari masa lalu, baik yang tersirat maupun tersurat. Belajar memahami keadaan serta mengambil langkah taktis strategis guna penyelamatan kemerdekaan yang telah susah paya di raih di masa lampau. Kita adalah kaum muda yang mengemban amanah dari pendahulu untuk mengisi kemerdekaan dengan terus belajar dari pengalaman masa lalu, yang buruk jangan di ulangi, yang baik di ambil, pemahaman akan sistem dunia yang semakin hari semakin menjadi-jadi tentunya perlu menjadi kesadaran bersama. Sistem dunia yang penulis maksud adalah adanya keinginan negara-negara kuasa global yang banyak tergabung dalam organisasi ekonomi politik seperti UNI EROPA, UNESCO, SANGHAI CORPORATION, MNC group, TNC group yang terus menerus melancarkan hegemoni untuk negara-negara semi pinggiran seperti indonesia menjadi tetap tergantung sehingga memberikan kebebasan untuk kuasa modal asing tetap mengeksploitasi sumber daya alam kita yang kaya.
Karena kita anak muda masa kini pun harus cerdas menghadapi tantangan-tantangan yang ada maka penting kiranya mempertajam bacaan kepentingan dunia terhadap negeri kita. Mesti menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dengan mengambil baiknya untuk melawan sisi buruknya. Karena sebaik apapun globalisasi yang menjadi tema utama hegemoni barat terdapat intrik-intrik politik ingin menguasai cadangan ssumber daya alam kita. Negeri barat yang sudah terlanjur industri seperti amerika, eropa dan sebagainya tentu memerlukan bahan mentah untk megelola dan menjalankan pabrik-pabriknya. Pertarungan antar sesama mereka pun tak ayal di jumpai dari sabang sampai merauke. Perebutan hasil bumi seperti minyak dan gas, emas dan tambang-tambang lainnya. Hasil hutan sebagai keniscayaan negeri tropis yang kita miliki pun mestinya menjadi patut di waspadai kelangsungannya.
Hegemoni eksternal yang kita hadapi tak hanya itu, seperti halnya negara-negara semi pinggiran seperti indonesia, kita di himpit oleh dua samudera. Samudera pasifik dan hindia -atlantk, yang tentunya negara-negara yang mendiami seputaran samudera itupun terdapat pertempuran-pertempuran budaya. Belum lagi di sisi ekonomi, china sebagai pesaing amerika mesti diwaspadai ketangguhan ekonominya, hegemoni komunis merak pun tak boleh lepas dari perhatian. Kita pernah mengalami benturan dengan komunis sebelumnya. Jangan sampai gerakan 30 september PKI terulang. Di sisi lain australia sebagai satelit negeri-negeri barat pun menjadi bahan tersendiri untuk di perhatikan.
Pasar bebas yang telah berlangsung ini mesti di isi oleh kaum muda yang serba kreatif, dan inovatif dalam pelbagai bidang. Penulis yakin kata “kita” mesti dielaborasi mejadi sebuah kekuatan kaum muda yang tetap peduli terhadap kondisi bangsanya. Meskipun demikian, patut kita ambil hikmah dari masa lalu guna menapaki jalan masa kii dan masa depan nanti.
Kenapa kita, karena suatu perlawanan yang dilakukan secara sendiri-sendiri hanya akan melahirkan deretan kekalahan. Sudah bukan zamannya lagi ada pahlawan kesendirian. Yang ada adalah kerja kolektif. Ada adigium yang patut kita ambil pelajarannya yaitu” bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” ini menegaskan bahwa,d ibutuhkan kebersamaan kaum muda untu melakukannya. Di butuhkan kesadaran kolektif di dalam mengisi kemerdekaan ini.

UNTUK APA KITA (?)
Dalam pelbagai kesempatan, perlu kita ulangi secara terus-menerus kesadarn kritis itu mesti dibangun atas dasar proses yang tidak mudah. Membekali diri dengan keterampilan yag serba canggih adalah keniscayaan yang harus di hadapi. Menggunakan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi untuk melawan hegemoni tekhnologi adalah bagian dari solusi alternatifnya. Sudah barang tentu diskusi mengenai kesadaran diri kaum muda adalah wajib hukumnya. Dalam ranah organisasi pun demikian sebab, berbeda antara kaum muda yang terkafer dalam sebuah organisasi dengan mereka yang tidak berorganisasi. Bedanya adalah ketika berada dalam suatu organisasi, kaum muda tentu akan di hadapkan pada pilihan mengikuti ideologi yang di perjuangkan organisasi tersebut shingganya. Kesadaran akan dapat di bektuk di dalamnya. Orientasi kegiatan-kegiatannya pun akan termaktub dalam anggaran dasar da anggaran rumah tangganya. Pun hal demikian harus di tapaki secara serius guna untuk menghadapi segala kemungkinan.
Membekali diri dengan mengisi nalar mental yang tidak inlander (budak/jajahan) adalah salah satu tujuan adanya kata “kita”. Meski dengan terseok-seok menghadapinya dan butuh nafas panjang melakukannya, dengan bersandar kepada cita-cita luhur bangsa kesemuanya akan dapat di hadapi. Semboyan bhineka tunggal ika dapat mejadi spirit membangun negeri ini dengan mencintai perbedaan sebagai konsekwensi bagsa yang plural dan multikultural. Negera kesatua repoblik indonesia adalah sebuah negara yang d persatuka air laut sungai dan bukan dipisahkan olehnya. Kita adalah negeri kepulauan dengan penduduk muslim terbanyak dunia, dan negeri yang mengakui kebebasan beragama menurut kepercayaannya masing-masing adalah negeri dengan modal besar menghadapi segala tantangan-tantangan nanti. Dan kata “kita” dalam hal ini menegaskan kaum mudanya yang hidup di masa sekarang adalah “kita” yang melawan penindasan, mempelopori gerakan mengisi kemerdekaa dengan jalan mencerdaskan generasi kita. Terus belajar dengan proses yang kita cintai, belajar mendisiplinkan diri, belajar memaknai kemerdekaan lantas mengisinya dengan kegiatan-kegiatan yang berpotensi melahirkan kemanusiaan yang adil dan beradap, persatuan negara bangsa indonesia, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia dengan berasas pada perdamaian abadi dan tentunya dengan spirit ketuhanan yang maha esa.
Kita adalah kita yang ada saat ini, kita yang maju, kita yang cerdas, kita yang canggih yang tau berterima kasih pada pendahulunya. Yang bebuat kebaikan dengan tidak pandang bulu, suku, ras, agama dan lainnya. Karena kita adalah kaum muda inonesia yang senantiasa mawas diri dalam menghadapi beaneka ragaman. Selalu mau berbuat untuk indonesia tercinta. Karena “kita adalah kaum muda masa kini dan akan bermanfaat untuk bangsa ini”
PENUTUP
Berhenti mengeluh dan beproses terus adalah pengejewantahan dari nilai-nilai pancasila yang bercita-cita luhur dalam mengisi kemerdekaan. Menjadi pelopor pergerakan bangkit kaum muda adalah keniscayaan yang tak bisa di hindari. Pelopor pergerakan dalam maksud yang mulia, yakni mengisi kemerdekaan dengan pelbagai agenda perubahan untuk indonesia raya.  Karena kita adalah kaum muda.


[1] Esay untuk diskusi kaum muda
[2] Penulis adalah mahasiswa pasca sarjana IAIN Gorontalo dan pegiat diskusi kaum muda
[3] Budaya pokoknya adalah budaya serba pokoknya, pokoknya ini dan pokoknya itu. Tak ada penghargaan atas proses yang dialami. Melainkan menitik beratkan pada hasil saja. Lihat dalam BUDAYA POKOKNYA, Tulisan ini bisa di dapat di rumah belajar densus 99.

Rabu, 18 November 2015

Pendidikan Kita Dalam Dekapan Globalisasi



Sudah menjadi fakta bahwa Selama ini, kita didoktrin untuk mengakui asumsi “ekstrim” mengenai pendidikan yaitu “dengan pendidikan kita dapat mudah mengarungi samudera kehidupan”. Ini berangkat dari  konsepsi pendidikan adalah hak dasar manusia.  John Dewey misalnya dengan dalih, pendidikan sebagai salah satu kebutuhan manusia menitik beratkan pengadaan pendidikan menjadi tanggung jawab sosial guna untuk membentuk disiplin hidup. Apabila pernyataan tersebut dianalisis lebih jauh, akan mengarahkan pada pemahaman bahwa, memenuhi kebutuhan pendidikan menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Dan ini menjadi tanggung jawab semua elemen masyarakat. Termasuk negara dalam hal ini pemerintah sebagai penanggung jawab utama di lingkungan pendidikan formal. Sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan formal lainnya menjadi sasaran tuntutan utama apabila, pelaksanaan pendidikan menjadi carut marut.
Namun demikian, dunia pendidikan kita sempat dikagetkan oleh pernyataan Ki Hajar Dewantoro bahwa” Orang yang tidak sekolah bisa mencari makan dengan menjual kacang, berjualan sayuran, dan bisa hidup dari hasil kerjanya itu. Tetapi, anak yang sekolah yang dianggap sebagai anak pandai, malah tidak bisa mencari makan sendiri, bahkan semakin tinggi jenjang sekolahnya, jadi tambah tidak bisa cari makan, tidak bisa jual kacang goreng, malu bekerja kasar. Dengan membawa ijasahnya yang bagus, berkeliling memasuki kantor-kantor mencari pekerjaan. Dan jadilah penganggur apabila ia tidak mendapat pekerjaan di kantor. Sehubungan dengan itu, Pendidikan lantas kemudian menjadi kaku dan buntut hanya menjadi tanggung jawab sekolah semata. Fungsi pendidikan dalam keluarga mulai terkikis. Dan bukan hanya itu, pendidikan dalam lingkungan masyarakat seakan jauh dari harapan. dimana membentuk karakter manusia yang baik telah menjadi pekerjaan sekolah sebagai lembaga formal pendidikan semata. Setidaknya, inilah gambaran kondisi pendidikan di Indonesia, Negara kita tercinta. Demikian analisis penulis mengenai benturan yang terjadi dalam dunia pendidikan kita. Tentu saja ini semua tidak terlepas dari berbagai hal yang ikut mempengaruhinya.
Tanggung jawab pendidikan yang mestinya diurusi secara bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah dalam hal ini mewakili unsur Negara, tidak menjadi harmonis. Dalam tataran konsep memang, pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan Bangsa yang tercurahkan dalam rangkaian makna seperti membentuk karakter manusia yang berbudi luhur, cerdas, bertaqwa kepada Tuhan, sehat dan kuat jasmani-rohani, mencintai nilai-nilai kemanusiaan yang baik seperti gotong-royong, tolong-menolong dan tenggang rasa serta lain sebagainya. Akan tetapi pada prakteknya, kita masih terjebak dalam aplikasinya di lapangan. sistem kelola dipelbagai lembaga pendidikan yang banyak mengalami blunder. Sebut saja dengan sistem birokrasi pendidikan yang mengarah pada pengambilan kebijakan yang keliru. Contoh kongkrit yang dapat penulis sajikan adalah dunia pendidikan kita dari waktu kewaktu di arahkan hanya pada pemaksimalan intelektual semata, tanpa memperhatikan aspek emosional dan spiritual. selain itu kurikulum pendidikan yang sering berganti tanpa melihat siap tidaknya seluruh daerah di Indonesia menerapkannya. Korupsi dana pendidikan juga turut mewarnainya. Tidak mengherankan bila, data yang didapat dari Education For All (EFA) Global Monitoring Report 2011, yang dikeluarkan UNESCO, Indeks pembangunan pendidikan Indonesia berada pada posisi ke 69 dari 127 negara yang dinilai. Mengurai masalah dalam dunia pendidikan kita memang mesti berani dan mau menelanjanginya, sebab dengan begitu kita akan berbenah. Mungkin saat ini, dunia pendidikan kita, sedang berteriak meminta pertolongan akibat tata kelola yang belum sesuai dengan cita-cita luhur kemerdekaan.
Belum kelar penuntasan masalah pendidikan, disaat yang bersamaan kita dihadpkan dengan proses globalisasi. Suatu konsep tatanan dunia yang menyatu tanpa mengenal batas negara-bangsa lagi. Globalisasi adalah imbas dari perang dingin yang di menangkan oleh kubu blok barat yang di nahkodai amerika serikat mengalahkan uni soviet dari blok timur. Hegemoni yang dilancarkan adalah kebudayaan dan peradaban dunia dapat menyatu dan masuk keseluruh pelosok Negeri. Ini adalah lompatan yang lahir dari rahim majunya ilmu pengetahuan barat dengan kecanggihan tekhnologi. Baik itu tekhnologi informasi, komunikasi maupun transportasi. Kaitannya dengan dunia pendidikan adalah, peradaban barat yang di ekspos secara besar-besaran kemudian masuk dan membaur di Indonesia. Sebut saja pemikiran mengenai Liberalisme-kapitalis dan sosialisme-Komunis serta Ateisme di satu sisi, yang menguat dan turut mewarnai perjalanan kemerdekaan kita. serta ajaran tentang Humanisme, Pluralisme, Multikulturalisme ikut menumpang di sisi lainya. Dalam  Ajaran mengenai konsep-konsep tersebut bukan tanpa alasan, globalisasi kemudian masuk dan merongrong dunia pendidikan indonesia. Tentu ada hal baik yang dapat di ambil, seperti kemajuan tekhnologi komunikasi yang mempermudah akses informasi, dan transportasi yang memperpendek jarak tempuh perjalanan. Akan tetapi, disaat yang bersamaan, pemanfaatan globalisasi yang keliru akan menimbulkan persoalan-persoalan selanjutnya. Misalnya saja, kita menjadi Negara konsumen atas produk-produk dari barat. Kemudian daripada itu, bahan mentah kita di beli dengan harga murah dan dijual kembali di indonesia dengan harga mahal. Disadari atau tidak, dunia pendidikan kita berada dalam dekapan globalisasi, yang dapat Memberi manfaat positif juga bisa mejadi bumerang dengan dampak negatifnya.
Globalisasi dan pendidikan baiknya dibenturkan, disaat yang bersamaan dielaborasi untuk mendapatkan pemahaman yang multi tafsir. Dampak yang di timbulkan akan beragam, inilah solusi alternatif yang dapat penulis rekomendasikan sehingga melahirkan kewaspadaan di satu sisi dan pemanfaatan disisi lainnya. Dalam hemat penulis, membenturkan globalisasi dan mengelaborasikannya pendidikan akan melahirkan gairah tersendiri, di antaranya adalah kewaspadaan yang sifatnya selektif dalam mengambil hal-hal yang baik dalam transfer budaya global. Memanfaatkan kecanggihan tekhnologi untuk kemudahan urusan-urusan pendidikan, seperti kemudahan mendapatkan referensi buku, artikel, akses, dan media pembelajaran yang menjadi keniscayaan akibat industrialisasi. Selain itu sikap memanfaatkan arus globalisasi yang tak terbendung lagi ini dengan cara memperkuat kultur budaya pekerti luhur untuk bersaing dengan seluruh Negera-Negara dan mampu menguatkan ekonomi politik secara internal, dan berbareng dengan Negara-Bangsa dunia lainnya untuk ikut melaksanakan keterbiban dunia secara eksternal.  Tidak bisa selamanya kita hanya menjadi negara semipheyiperi atau negara pinggiran.
Hal ini tercermin juga dalam undang-undang dasar negara republik Indonesia. Sehingganya, tidak mengherankan jika globalisasi dapat mejadi pisau bermata dua. Dampak baik yang ditimbulkan bisa berubah menjadi petaka yang melululantahkan peradaban yang sudah ada dan mengakar. Pendidikan yang disusupi globalisasi akan melahirkan tujuan dan orientasi pendidikan yang bermuara pada materialistik. Dan sikap masyarakat akan berubah menjadi sangat individualistik. Kiranya demikian dampak negatifnya, sedangkan globalisasi dalam dunia pendidikan akan melahirkan persaingan baik konsep maupun prakteknya. Tidak berhenti disitu. Penulis yakin betul bahwa, pendidikan dengan topangan globalisasi dapat menjadi pendongkrak guna mengisi kemerdekaan Indonesia umumnya, dan dapat menjadi senjata ampuh dalam memperbaiki tata sistem pendidikan khususnya. Kuncinya adalah dengan konsepsi pendidikan yang tepat dan ditopang dengan realisasi dari program yang telah direncanakan akan melahirkan manfat yang positif.