Pola
mahasiswa bolmut di Gorontalo(2010-2015)
Oleh
Inal Datunsolang[2]
Selama ini kita terus
di belenggu dengan paham yang “ekstrim”, tentang kuliah. Paham itu berasal dari
orang tua kita sendiri. Memang setiap orang tua pasti menginginkan anaknya
menjadi orang sukses. Akan tetapi, kesuksesan yang diinginkan orang tua(yang
berasal dari bolmut) tersebut adalah ketika anaknya mampu menyelesaikan
study-mendapat pekerjaan yang layak(PNS)- kemudian menikah. Hahaha…. Memang
kebutuhan ekonomi adalah hal priemer yang harus di atasi. akan tetapi bukan
hanya itu, di saat berproses menjadi mahasiswa tidak hanya paradigm itu yang
dapat di gunakan. Uniknya ini terjadi di kalangan orang tua (menengah kebawah)
yang mengirimkan anak mereka ke bumi gorontalo. Dan cita-cita “mulia” inipun
menjadi semangat setiap mahasiswa yang berasal dari kabupaten JUARA (slogan
pemerintah) bolaang mongondow utara. Semakin menarik ketika penulis dapati,
argumentasi di atas hampir menjadi bahan cerita di kalangan mahasiswa yang
sering nongkrong di kampusnya masing-masing.
Uneversitas negri
gorontalo(UNG). Institut agama islam negri gorotalo(IAIN) dan universitas
Ichsan gorontalo(UNISAN) adalah tiga perguruan tinggi yang menajdi sasaran
utama para orang tua dalam menguliahkan anaknya. Tanpa mengesampingkan
universitas muhamadiyyah gorontalo (UMGOR) sekolah tinggi ilmu
kesehatan(STIKES), perguruan tinggi terakhir ini banyak di minati orang tua
yang berlatar belakang pendapatan yang cukup(maklum biayanya lumayan mahal).
Dari upaya penelusuran yang telah penulis lakukan, memang disadari patut
menjadi kegelisahan bersama. Sebabnya dengan motivasi (sekedar) untuk memenuhi
kebutuhan hidup nantinya para mahasiswa ini kemudian melupakan hal yag cukup
urgen dalam berproses menemukan jati dirinya. Karena menanggalkan semangat
berpengetahuan selama hayatnya.
Menuntut ilmu tidak
hanya sekedar untuk mendapatkan pekerjan tetap sebagai abdi Negara (PNS).
Melainkan untuk memaksimalkan potensi yang telah tuhan berikan. Sebagaimana
tujuan ilmu itu adalah untuk di amalkan. Menjadi manusia yang berbudi luhur,
cakap, bertanggung jawab akan ilmunya serta menjadi contoh atau teladan yang
baik sebagaimana yang telah rasulullah ajarkan seakan hanya menjadi ilusi. Selain hal tersebut, kecenderungan untuk aktif
dalam berorganisasi, terlibat dalam kegiatan-kegiatan bermanfaat, memaksimalkan
otak dengan membaca, diskusi dan dialog pun menjadi barangg langka yang di
temukan didalam diri mahasiswa bolmut. Ini penulis sadari adalah gejala yang
semakin marak dalam kalangan mahasiswa bolmut dewasa ini. Fenomena tersebut
bukan tanpa dasar dan fakta, melainkan gejala yang telah penulis amati di mulai
dari tahun 2010 hingga 2015. Lima tahun terakhir ini penulis bermukim di bumi
gorontalo tidak sekedar menyelesaikan kewajiban sebagai hamba akademik
melainkan juga terus menerus mengamati keadaan mahasiswa bolmut yang tentunya
sekampung halaman dengan penulis.
Berbeda dengan angkatan sebelmunya 2010 ke
belakang, terdapat mahasiswa-mahasiswi yang cukup popular dengan keilmuan yang
mendalam dan aksi sosial yang mereka lakukan. Sebut saja pendiri dan penggagas
KPMIBU yang dulu nama organisasi tersebut adalah gerakan mahasiswa BINADOU(nama
ini di ambil berdasarkan gabungan dari dua eksuap kerajaan di bolmut yaitu
BINTAUNA dan KAIIPANG). Sebut saja arter datunsolang dan angkatannya fadli
binolombangan, beserta pendekar-pendekar lain yang tak bisa di pungkiri adalah
tokoh mahasiswa yang berasal dari bolmut seperti armin humalidi, arp jahala,
antto lenda, sukri humalidi, julkifli, budi, ija, om teo, liem antogia. Mereka
terdeteksi berasal dari perguruan tinggi UNG, tidak hanya itu, di IAIN pun
terdapat nama-nama yang tak kalah popular semisal, fathan boulu, upik che goma,
syafar pohontu, onal lamunte, farhan, frans ali dan pengikut setia mereka yaitu
inal datunsolang, paslah patingki, firman stion, kamil, iki family, nawir dll.
Bukan salah orang tua
memang, ketika menitipkan anak mereka ke bumi goronttalo. Tetapi dasar anaknya
yang tidak mau berproses dengan benar sajalah sehingga fenomena ini cukup
menjadi potensi buruk yang akan menjadi bom waktu ketika tidak di tangani.
Memang benar terdapat organisasi kerukunan mahasiswa Indonesia kabupaten
bolaang mongondow utara di gorontalo, akan tetapi organisasi ini seakan hanya
menjadi tempat ngumpul dan bernostalgia dengan kampong halaman. Tanpa kemudian
melahirkan ide untuk bagaimana membendung arus hegemoni individualisti yang di
bawa globalisasi.
Di loaklitas kampus
iain sultan amai gorontalo pun terdapat penyakit mematikan yang oleh penulis di
beri nama MAHASISWA FOSIL, hehe
memang benar adaya. Banyak terdapat mahasiswa dalam perguruan yang penulis sebu
barusan. Akan tetapi tidak banyak dari mereka yang hanya sekedar ke kampus pada
jam perkuliahan saja. Di waktu luang mereka banyak menghabiskan waktu untuk
bersantai di kos kosan dan bahkan hanya duduk melamun di pigggiran jalan. Daya
kratifitas yang rendah juga mnenjadi faktor
utama menyebabkan penyakit FOSIL
ini.
Banyak mahasiswa bolmut
yang terus menerus menguras keringat orang tua mereka di kampong halaman dengan
menggunakan uang kiriman untuk berfoya-foya, membeli rokok, jalan jalan, bahkan
tidak jarang uang kiriman orang tua mereka di gunakan untuk membeli minuman
keras, mabuk2an hingga mengalami kecelakaan motr, berkelahi dengan alasan tak
jelasm(akibat mabuk mungkin) bahkan tidak jarang dari mereka yang berkelahi
hanya karena persoalan romantisme (Alhamdulillah penulis belum mengalaminya).
Fokmma yang katanya
forum organisasi yang ada di lingkungan iain pun eblum menjadi solusi guna
untuk mengaktualisasikan diri mereka. Buktinya masih banyak terdapat mahasiswa
bolmut yang tidak terkafer di dalam forum tersebut. Kalaupun ada yang sudah terkader, mereka hanya
menjadi pelengkap penderitaan forum tersebut dengan bersikap acuh tak acuh
dengan kondisi diri mereka sendiri.
Selain KPMIBU dan FOKMMA,
penulis mendapat angin segar dengan adaya organisasi yang bernama IMAN ikatan
mahasiswa totabuan, dimana dalam keanggotaannya terdapat mahasiswa yang berasal
dari bolmut. Namun sayangnya organisasi ini pun menjadi semacam organisasi
pengikat tanpa arah dan tujuan. Selain itu juga menjadi pelengkap derita bahkan
tidak dapat di ingkari pun banyak yang terhegemoni dengan situasi baru dimana
kekagetan dengan suasana yang belum mereka alami sebelumnya.
Kritikan ini bukan di arahkan
untuk memulai konflik sesama warga bolmut yang berada di bumi gorontalo,
melainkan bacaan diri dengan penyakit FOSIL
yang semakin marak menyebar dan hinggap dalam diri mahasiswa bolmut. Penulis
dengan penuh kesadaran menyebut FOSIL sebagai penyakit diri yang melanda
hamper, ingat… hampir sebagian mahasiswa bolmut. Bagi mereka yang merasa aktif
di dalam kegiatan2an baik itu KPMIBU, FOKMMA, IMAN dan entah apa namanya
organisasi mahasiswa bolmut yang berada di gorontalo lain, penulis menghimbau
agar kiranya memaksimalkan peran organisasi sebagai wadah untuk mengeksplorasi
diri dalam mengembangkan ide ide kreatif. Sampai dengan saat ini, yang penulis dapati
adalah perebutan kekuasaan, siakp acuh tak acuh yang terus berkembang di tubuh
organisasi mahasiswa bolmut.
Baiknya dibuat diskursus
terkait beberapa pendapat penulis di atas. Guna untuk menemukan solusi tepat
dalam menghadapi penyakit FOSIL ini.
Apa itu FOSIL?
1) Fosil
adalah pemikiran untuk tetap mengunci diri dari berbuat, berbincang dan
berargumentasi kritis layaknya mahasiswa sebagai manusia akademis
2) Fosil
adalah sikap berdiam diri seperti halnya benda mati
3) Fosil adalah sikap tak peduli dengan keadaan
sesame mahasiswa yang berasal dari bolmut
4) Fosil
adalah tahapan diri menuju ketidak mandirian dalam mengubah tatanan hidup
ketika kelar nanti dalam bermahasiswa
5) Fosila
adalah penyakit yang membuat nalar mental mahasiswa dari bolmut menjadi jauh
dari daya kreatifitas mendobrak ketidakmampuan diri untuk berkembang menjadi
layaknya tokoh2 mahasiswa pemuda di zaman pergerakan nasional dahulu.
Sejarah tentang
perlawanan mahasiswa di tiap era besarnya menjadi contoh actual dalam melawan
penyakit fosil. Dimana setiap organisasi mahasiswa terus beraktifitas akademik
disamping bersuara dalam pola perputaran zaman. Sebagaimana yang tercantum
dalam catatan perjalanan Negara repoblik Indonesia, dimana sumpah pemuda pada
tahun 1908
Mengukir pijakan awal perlawanan semua elemen
muda bangsa untuk melawan penjajahan. Sikap dan tindakan mereka pun menjadi
acuan lahirnya sumpah mahasisa Indonesia di tahun 1998 saat mengulingkan
kekuasaan pada saat itu. Soeharto pun tumbang layaknya para penguasa-penguasa
dunia yang bersikap otoriter. Sedikit bernostalgia, perlawanan kaum muda memang
membawa hawa baru dalam dunia akademik. Di lokalitas daerah gorontalo misalnya.
Aksi aksi perlawanan elemen muda pun pernah terjadi. Dimana mengecam dan
mengutuk kebijakan pemerintah daerah adalah bukti kongkrit. Pada saat itu
mahasiswa bolmut terdahulu pun ikut ambil bagian dalam perlawanan tersebut.
Pertanyaan besarnya
bukan pada menghakimi kawan, teman, atau bahkan sahabat anda. Melainkan untuk
diri anda sendiri. Sudahkan anda terbebas dari penyakit FOSIL ini?
Kerangkan penyakit yang
penulis sebut di atas, adalah bagian penting untuk dilawan. Hal itu di sebabkan
catatan kritis ini akan menjadi sumber referensi bagi mahasiswa bolmut
medatang. Sebagaimana kata pepatah. “ hidup tak ubahnya seperti roda. Berputar
terus menerus” mengingat pentingnya argumentasi mengenai situasi nalar dan
mental mahasisswa bolmut ini kiranya penulis berharap jangan ada lagi penyakit
yang akan menghiggapi mahasisswa bolmut di masa depan. Sebab, catatan ini
berfungsi selain informasi mengenai keadaan mahasiswa bolmut saat ini
(2010-2015) juga sebagai alat baca mahasiswa di masa depan untuk tidak
mengulangi kesalahan yang terjadi. Menjadi generasi yang terus kritis dan
kreatif adalah bagian solusi yang ti tawarkan oleh penulis.
Kritis dalam artian
membaca situasi secara tajam, mencermati isu dan propaganda, melawan bentuk
kebijakan yang sifatnya mengekang, menindas bahkan merampas hak-hak mahasiswa.
Tidak boleh berhenti sampai disitu, terus melakukan pengkaderan guna
memperbanyak pasukan adalah tindakan nyata yang harus di ambil. Pun di bumbuhi
dengan aksi aksi sosial. Sehingga ilmu yang didapat tidak hanya menjadi
perdebatan belaka melainkan amalan yang seharusnya.
Apakah
anda adalah salah satu FOSIL yang
menghuni salah satu perguruan tinggi di gorontalo?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar