Minggu, 22 November 2015

FOSIL DAN NALAR MENTAL MAHASISWA BOLMUT[1]



Pola mahasiswa bolmut di Gorontalo(2010-2015)
Oleh Inal Datunsolang[2]
Selama ini kita terus di belenggu dengan paham yang “ekstrim”, tentang kuliah. Paham itu berasal dari orang tua kita sendiri. Memang setiap orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi orang sukses. Akan tetapi, kesuksesan yang diinginkan orang tua(yang berasal dari bolmut) tersebut adalah ketika anaknya mampu menyelesaikan study-mendapat pekerjaan yang layak(PNS)- kemudian menikah. Hahaha…. Memang kebutuhan ekonomi adalah hal priemer yang harus di atasi. akan tetapi bukan hanya itu, di saat berproses menjadi mahasiswa tidak hanya paradigm itu yang dapat di gunakan. Uniknya ini terjadi di kalangan orang tua (menengah kebawah) yang mengirimkan anak mereka ke bumi gorontalo. Dan cita-cita “mulia” inipun menjadi semangat setiap mahasiswa yang berasal dari kabupaten JUARA (slogan pemerintah) bolaang mongondow utara. Semakin menarik ketika penulis dapati, argumentasi di atas hampir menjadi bahan cerita di kalangan mahasiswa yang sering nongkrong di kampusnya masing-masing.
Uneversitas negri gorontalo(UNG). Institut agama islam negri gorotalo(IAIN) dan universitas Ichsan gorontalo(UNISAN) adalah tiga perguruan tinggi yang menajdi sasaran utama para orang tua dalam menguliahkan anaknya. Tanpa mengesampingkan universitas muhamadiyyah gorontalo (UMGOR) sekolah tinggi ilmu kesehatan(STIKES), perguruan tinggi terakhir ini banyak di minati orang tua yang berlatar belakang pendapatan yang cukup(maklum biayanya lumayan mahal). Dari upaya penelusuran yang telah penulis lakukan, memang disadari patut menjadi kegelisahan bersama. Sebabnya dengan motivasi (sekedar) untuk memenuhi kebutuhan hidup nantinya para mahasiswa ini kemudian melupakan hal yag cukup urgen dalam berproses menemukan jati dirinya. Karena menanggalkan semangat berpengetahuan selama hayatnya.
Menuntut ilmu tidak hanya sekedar untuk mendapatkan pekerjan tetap sebagai abdi Negara (PNS). Melainkan untuk memaksimalkan potensi yang telah tuhan berikan. Sebagaimana tujuan ilmu itu adalah untuk di amalkan. Menjadi manusia yang berbudi luhur, cakap, bertanggung jawab akan ilmunya serta menjadi contoh atau teladan yang baik sebagaimana yang telah rasulullah ajarkan seakan hanya menjadi ilusi.  Selain hal tersebut, kecenderungan untuk aktif dalam berorganisasi, terlibat dalam kegiatan-kegiatan bermanfaat, memaksimalkan otak dengan membaca, diskusi dan dialog pun menjadi barangg langka yang di temukan didalam diri mahasiswa bolmut. Ini penulis sadari adalah gejala yang semakin marak dalam kalangan mahasiswa bolmut dewasa ini. Fenomena tersebut bukan tanpa dasar dan fakta, melainkan gejala yang telah penulis amati di mulai dari tahun 2010 hingga 2015. Lima tahun terakhir ini penulis bermukim di bumi gorontalo tidak sekedar menyelesaikan kewajiban sebagai hamba akademik melainkan juga terus menerus mengamati keadaan mahasiswa bolmut yang tentunya sekampung halaman dengan penulis.
 Berbeda dengan angkatan sebelmunya 2010 ke belakang, terdapat mahasiswa-mahasiswi yang cukup popular dengan keilmuan yang mendalam dan aksi sosial yang mereka lakukan. Sebut saja pendiri dan penggagas KPMIBU yang dulu nama organisasi tersebut adalah gerakan mahasiswa BINADOU(nama ini di ambil berdasarkan gabungan dari dua eksuap kerajaan di bolmut yaitu BINTAUNA dan KAIIPANG). Sebut saja arter datunsolang dan angkatannya fadli binolombangan, beserta pendekar-pendekar lain yang tak bisa di pungkiri adalah tokoh mahasiswa yang berasal dari bolmut seperti armin humalidi, arp jahala, antto lenda, sukri humalidi, julkifli, budi, ija, om teo, liem antogia. Mereka terdeteksi berasal dari perguruan tinggi UNG, tidak hanya itu, di IAIN pun terdapat nama-nama yang tak kalah popular semisal, fathan boulu, upik che goma, syafar pohontu, onal lamunte, farhan, frans ali dan pengikut setia mereka yaitu inal datunsolang, paslah patingki, firman stion, kamil, iki family, nawir  dll.
Bukan salah orang tua memang, ketika menitipkan anak mereka ke bumi goronttalo. Tetapi dasar anaknya yang tidak mau berproses dengan benar sajalah sehingga fenomena ini cukup menjadi potensi buruk yang akan menjadi bom waktu ketika tidak di tangani. Memang benar terdapat organisasi kerukunan mahasiswa Indonesia kabupaten bolaang mongondow utara di gorontalo, akan tetapi organisasi ini seakan hanya menjadi tempat ngumpul dan bernostalgia dengan kampong halaman. Tanpa kemudian melahirkan ide untuk bagaimana membendung arus hegemoni individualisti yang di bawa globalisasi.
Di loaklitas kampus iain sultan amai gorontalo pun terdapat penyakit mematikan yang oleh penulis di beri nama MAHASISWA FOSIL, hehe memang benar adaya. Banyak terdapat mahasiswa dalam perguruan yang penulis sebu barusan. Akan tetapi tidak banyak dari mereka yang hanya sekedar ke kampus pada jam perkuliahan saja. Di waktu luang mereka banyak menghabiskan waktu untuk bersantai di kos kosan dan bahkan hanya duduk melamun di pigggiran jalan. Daya kratifitas yang rendah juga mnenjadi faktor  utama menyebabkan penyakit FOSIL ini.
Banyak mahasiswa bolmut yang terus menerus menguras keringat orang tua mereka di kampong halaman dengan menggunakan uang kiriman untuk berfoya-foya, membeli rokok, jalan jalan, bahkan tidak jarang uang kiriman orang tua mereka di gunakan untuk membeli minuman keras, mabuk2an hingga mengalami kecelakaan motr, berkelahi dengan alasan tak jelasm(akibat mabuk mungkin) bahkan tidak jarang dari mereka yang berkelahi hanya karena persoalan romantisme (Alhamdulillah penulis belum mengalaminya).
Fokmma yang katanya forum organisasi yang ada di lingkungan iain pun eblum menjadi solusi guna untuk mengaktualisasikan diri mereka. Buktinya masih banyak terdapat mahasiswa bolmut yang tidak terkafer di dalam forum tersebut.  Kalaupun ada yang sudah terkader, mereka hanya menjadi pelengkap penderitaan forum tersebut dengan bersikap acuh tak acuh dengan kondisi diri mereka sendiri.
Selain KPMIBU dan FOKMMA, penulis mendapat angin segar dengan adaya organisasi yang bernama IMAN ikatan mahasiswa totabuan, dimana dalam keanggotaannya terdapat mahasiswa yang berasal dari bolmut. Namun sayangnya organisasi ini pun menjadi semacam organisasi pengikat tanpa arah dan tujuan. Selain itu juga menjadi pelengkap derita bahkan tidak dapat di ingkari pun banyak yang terhegemoni dengan situasi baru dimana kekagetan dengan suasana yang belum mereka alami sebelumnya.
Kritikan ini bukan di arahkan untuk memulai konflik sesama warga bolmut yang berada di bumi gorontalo, melainkan bacaan diri dengan penyakit FOSIL yang semakin marak menyebar dan hinggap dalam diri mahasiswa bolmut. Penulis dengan penuh kesadaran menyebut FOSIL sebagai penyakit diri yang melanda hamper, ingat… hampir sebagian mahasiswa bolmut. Bagi mereka yang merasa aktif di dalam kegiatan2an baik itu KPMIBU, FOKMMA, IMAN dan entah apa namanya organisasi mahasiswa bolmut yang berada di gorontalo lain, penulis menghimbau agar kiranya memaksimalkan peran organisasi sebagai wadah untuk mengeksplorasi diri dalam mengembangkan ide ide kreatif. Sampai dengan saat ini, yang penulis dapati adalah perebutan kekuasaan, siakp acuh tak acuh yang terus berkembang di tubuh organisasi mahasiswa bolmut.
Baiknya dibuat diskursus terkait beberapa pendapat penulis di atas. Guna untuk menemukan solusi tepat dalam menghadapi penyakit FOSIL ini.
 Apa itu FOSIL?
1)      Fosil adalah pemikiran untuk tetap mengunci diri dari berbuat, berbincang dan berargumentasi kritis layaknya mahasiswa sebagai manusia akademis
2)      Fosil adalah sikap berdiam diri seperti halnya benda mati
3)       Fosil adalah sikap tak peduli dengan keadaan sesame mahasiswa yang berasal dari bolmut
4)      Fosil adalah tahapan diri menuju ketidak mandirian dalam mengubah tatanan hidup ketika kelar nanti dalam bermahasiswa
5)      Fosila adalah penyakit yang membuat nalar mental mahasiswa dari bolmut menjadi jauh dari daya kreatifitas mendobrak ketidakmampuan diri untuk berkembang menjadi layaknya tokoh2 mahasiswa pemuda di zaman pergerakan nasional dahulu.
Sejarah tentang perlawanan mahasiswa di tiap era besarnya menjadi contoh actual dalam melawan penyakit fosil. Dimana setiap organisasi mahasiswa terus beraktifitas akademik disamping bersuara dalam pola perputaran zaman. Sebagaimana yang tercantum dalam catatan perjalanan Negara repoblik Indonesia, dimana sumpah pemuda pada tahun 1908
 Mengukir pijakan awal perlawanan semua elemen muda bangsa untuk melawan penjajahan. Sikap dan tindakan mereka pun menjadi acuan lahirnya sumpah mahasisa Indonesia di tahun 1998 saat mengulingkan kekuasaan pada saat itu. Soeharto pun tumbang layaknya para penguasa-penguasa dunia yang bersikap otoriter. Sedikit bernostalgia, perlawanan kaum muda memang membawa hawa baru dalam dunia akademik. Di lokalitas daerah gorontalo misalnya. Aksi aksi perlawanan elemen muda pun pernah terjadi. Dimana mengecam dan mengutuk kebijakan pemerintah daerah adalah bukti kongkrit. Pada saat itu mahasiswa bolmut terdahulu pun ikut ambil bagian dalam perlawanan tersebut.
Pertanyaan besarnya bukan pada menghakimi kawan, teman, atau bahkan sahabat anda. Melainkan untuk diri anda sendiri. Sudahkan anda terbebas dari penyakit FOSIL ini?
Kerangkan penyakit yang penulis sebut di atas, adalah bagian penting untuk dilawan. Hal itu di sebabkan catatan kritis ini akan menjadi sumber referensi bagi mahasiswa bolmut medatang. Sebagaimana kata pepatah. “ hidup tak ubahnya seperti roda. Berputar terus menerus” mengingat pentingnya argumentasi mengenai situasi nalar dan mental mahasisswa bolmut ini kiranya penulis berharap jangan ada lagi penyakit yang akan menghiggapi mahasisswa bolmut di masa depan. Sebab, catatan ini berfungsi selain informasi mengenai keadaan mahasiswa bolmut saat ini (2010-2015) juga sebagai alat baca mahasiswa di masa depan untuk tidak mengulangi kesalahan yang terjadi. Menjadi generasi yang terus kritis dan kreatif adalah bagian solusi yang ti tawarkan oleh penulis.
Kritis dalam artian membaca situasi secara tajam, mencermati isu dan propaganda, melawan bentuk kebijakan yang sifatnya mengekang, menindas bahkan merampas hak-hak mahasiswa. Tidak boleh berhenti sampai disitu, terus melakukan pengkaderan guna memperbanyak pasukan adalah tindakan nyata yang harus di ambil. Pun di bumbuhi dengan aksi aksi sosial. Sehingga ilmu yang didapat tidak hanya menjadi perdebatan belaka melainkan amalan yang seharusnya.  
 Apakah anda adalah salah satu FOSIL yang menghuni salah satu perguruan tinggi di gorontalo?



[1] materi ini di sajikan dalam diskusi rutin dan di setiap kesempatan yang penulis punyai
[2] penulis dalah mahasiswa pasca IAIN Gorontalo yang sedang mencari pacar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar