TEOLOGI
PEMBEBASAN
RESPON
TERHADAP KEKAKUAN MEMAHAMI ISLAM.
Inal
datunsolang
Islam
adalah agama yang ajaran-ajaranya diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui Nabi
Muhammad saw. dalam ajaran Islam senantiasa mengarahkan manusia pada akhlak
yang baik (akhlaq mahmudah) dan
menjauhi akhlak yang buruk (akhlaq
mazmumah). Berangkat dari pernyataan tersebutlah maka, seharusnya agama
Islam menjadi spirit manusia dalam melakukan hal-hal baik seperti
tolong-menolong, tenggang rasa, mencintai sesama, mencintai perdamaian, hidup
rukun, dsb. Bukan malah sebailknya.
Pendekatan dalam memahami agama Islam tidak boleh tunggal, apalagi hanya
bersifat tekstual saja. Hal itu dapat memicu “kekakuan” yang pada tahap
berikutnya akan menghasilkan fanatik buta dibarengi dengan klaim-klaim
kebenaran (truth calim). Bukan hanya
itu, Islam pun akan menjelma menjadi “Agama adalah Candu Masyarakat”,
sebagaimana ungkapan Karl Marx. Agama, menurut Marx adalah ciptaan manusia
sebagai tempat untuk berkeluh kesah dan pelarian sementara, mengalihkan diri
dari realitas penderitaan yang dialami oleh manusia. Agama menyediakan
ajaran-ajaran yang meninabobokan para pengikutnya agar lebih menerima kenyataan
yang ia alami sebagai bagian dari perjalanan hidup yang dikehendaki Tuhan
Apakah
Islam juga mengalami hal yang sama sebagaimana agama yang disaksikan Marx?
Untuk sebagian, jawabannya adalah “ya”. Menurut Hassan Hanafi, Islam yang telah
terkooptasi menjadi hanya sekedar kumpulan rirus-ritus, perayaan-perayaan, dan
kepercayaan ukhrawi saja. Akan tetapi sebagiannya lagi akan berkata “tidak”
sebab Islam adalah ajaran agama yang mengedepankan nilai-nilai
persatuan-kesatuan, spirit perubahan dengan doktrin Islam mesti dipahami
sebagai langkah mendorong manusia dalam melakukan perubahan hal ini bersandar
pada ayat al- quran surat al-Ra’d ayat 11 yang artinya: "Sesungguhnya
Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang
ada pada diri mereka sendiri. Oleh karena itu,
pendekatan dalam memaknai Islam mesti beragam. Misalnya, pendekatan sosiologis
dimana peran masyarakat dalam mengekspresikan agam islam menjadi ukuran
tertentu dalam melihat bagaimana islam mempengaruhi masyarakat dan juga
sebaliknya. Selain itu ada pendekatan historis, ketika proses penyebaran Islam
dari tanah lahirnya yaitu Arab hingga masuk ke Indonesia, terdapat frem
kesaksian-kesaksian dan artefak peninggalan yang mempengaruhi perkembangan
Islam. Agama Islam yang menyatu dengan budaya pada tahap selanjutnya disebut
pendekatan kultural dalam memahami Islam sebagai ajaran yang megakomodir
tradisi-positif local, dan ada pula pendekatan lain yang diperkenalkan oleh
Asghar Ali Engineer, yaitu pendekatan teologi emansipatoris. Tema yang terakhir
ini menjadi menarik untuk di resapi bersama guna melihat Islam sebagai Agama
yang di anut oleh sebagian besar masyarakat Indonesia umumnya dan masyarakat
bolaang mongondow utara khususnya.
Dalam
menyikapi era digital dewasa ini, ajaran Islam mestilah keluar dari perangkap
klaim kafir, sesat yang sering dipertontonkan media masa lewat jargon khilafah
Islamiyah. Paham wahabi yang menjadi dasar dari argumetasi tersebut meyakini
bahwa dengan berdirinya Negara Islam maka persoalan kemiskinan, pendidikan, kesehatan
dan kesejahteraan masyarakat dapat terlaksana. Namun demikian, angan-angan itu
menjadi hambar ketika diperhadapkan dengan kenyataan bahwa Indonesia adalah
Negara hukum bukan Negara agama. Yang memperjuangkan kemerdekaan adalah seluruh
warga Negara yang tentunya memiliki perbedaan keyakinan. Perbedaan keyakian
yang ada mestilah dijadikan kekayaan peradaban dan warisan untuk mengisi
kemerdekaan. Dalam suasana merayakan kemerdekaan Indonesia yang berusia 71
tahun ini, masyarakat khusus di bolaang mongondow utara mengisinya dengan
beragam kegiatan. Mulai dari “cat pagar-gerak jalan-hingga pengibaran bendera
merah putih”. Rutinitas yang berulang dan belum memiliki makna baru dalam
mengisi kemerdekaan. Disaat bersamaan, pemerataan pendidikan, kesejahteraan
masyarakat masih terabaikan. Sudahkah pembangunan daerah yang akan berumur satu
decade ini mengisi kemerdekaan dengan menjadikan ajaran Islam sebagai pandangan
hidup (way of life), ataukah Islam hanya menjadi agama yang mempertahankan
status quo.
Sejak semula
Engineer memberikan satu usulan kuat untuk mereformasi teologi konvensional guna menuju teologi
‘baru’ yang lebih relevan. Menurutnya, teologi yang selama ini dianut oleh
kebanyak umat Islam mengandung kepasifan dalam menaggapi realitas kehidupan yang
tak adil. Apa yang menjadi semangat hakiki agama justru kandas lantaran
kecenderungan pembahasan dan orientasi teologi yang terlepas dari kondisi
timpang di hadapannya. Secara eksplisit, Engineer menolak teologi yang terlalu
beraroma metafisik, abastrak, dan tak menyentuh problema kehidupan masyarakat.
Karekteristik teologi semacam ini hanya akan menambah kuat status quo, atau bahkan mendukung dan secara bersama-sama melakukan
penindasan rakyat. Sebagaimana tuturnya:
Umumya teologi pada masa sekarang ini
dikuasia oleh orang-orang yang sangat mendukung status quo. Oleh karena itu, teologi cenderung sangat ritualis,
dogmatis dan bersifat metafisis, yang membingungkan. Dengan wajah yang seperti
ini, agama sama denga misitik dan menghipnotis masyarakat. Dan teologi
pembebasan harus membersihkan elemen-elemen ini sampai ke akar-akarnya
Teologi
Pembebasan adalah gabungan dari teologi dan pembebasan. Secara etimologis,
teologi berasal dari theos yang berarti Tuhan dan logos yang
berarti ilmu. Teologi adalah ilmu yang mempelajari tentang Tuhan dan
hubungannya dengan manusia dan alam semesta. Sedangkan kata pembebasan
merupakan istilah yang muncul sebagai reaksi atas istilah pembangunan (development)
yang kemudian menjadi ideologi pengembangan ekonomi yang cenderung liberal dan
kapitalistik dan umum digunakan di negara dunia ketiga sejak tahun 60-an
Perbincangan tentang agama (religion) tidak akan pernah terputus,
bahkan terus berkembang seiring dengan situasi dan kondisi manusia yang
menjadikannya sebagai pedoman (way of
life) dan bahan studi di berbagai kalangan. Perbincangan selama ini adalah
cara pandang manusia terhadap agama itu sendiri dan mengamlkannya dalam
kehidupan bermasyarakat. Wacana klasik sering menempatkan agama sebagai suatu
yang absolute tentang kebenaran hidup dan kehidupan dan menempatkannya suatu
yang sakral, untouchable dengan berbagai alasan, dan cara memahaminya secara
doktriner, sehingga terkesan kaku tidak menciptakan ruang atas ranah kritis
manusia. Agama juga disikapi sebagai suatu yang given dan lebih menonjolkan
sisi hubungan manusia dengan Tuhan (worship),
dari pada ranah sosial. Kehadiran pemikir kontemporer seperti Asghar Ali
Engineer melihat bahwa pendekatan kepada Agama pada masa klasik telah
mengakibatkan kejumudan berfikir kaum muslim yang sudah jauh tertinggal dengan
non muslim dalam ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Pada saat ini muncul lontaran
pemikiran bahwa diperlukan metodologi dalam memahami dan memahamkan agama,
yaitu harus ada perimbangan terhadap sisi normativitas agama dengan tidak
melupakan sisi historisitas agama.
Cara
pandang normativitas adalah pemahaman agama yang lebih berorietasi pada
hubungan manusia dengan Tuhan dan terfokus pada kajian teks dengan tidak
mengedepankan sisi rasionalitas. Sedangkan historisitas, adalah bagaimana
memahami agama dan teks yang ada dengan melihat sisi-sisi historis yang melatarbelakanginya,
atau gejala-gejala sosial kultural yang melingkupinya Pembaharuan pemikiran ini
muncul sebagai kegelisahan pemikir kontemporer yang melihat realitas
keberagamaan umat Islam yang telah lama terkungkung dalam kejumudan, maka
lontaran pemikiran di atas menjadi sebuah revolusi teologis menuju teologi
transformative untuk menjawab realitas kekinian
Bagi Asghar Ali, Ada beberapa alasan
mengapa diperlukan pembenahan terhadap teologi menuju pembebasan, diantaranya:
pertama, bahwa dalam kurun waktu yang cukup lama teologi menjadi suatu yang
status quo, stagnan, dan tidak memberikan kontribusi terhadap kemajuan berfikir
kaum muslimin, kedua, sekian lama juga teologi dijadikan alat bagi penguasa
dalam melanggengkan kekuasaan dengan atas nama agama, ketiga, teologi sering
dijalankan hanya pada ranah metafisik dan tidak menyentuh sisi subtansi
keadilan, kedamaian, kemakmuran bagi kaum muslimin, bahkan justru menjadi jalan
bagi halalnya radikalisme dan penindasan.
Lontaran pemikiran Asghar Ali ini tidak serta merta muncul begitu saja, melainkan adanya pengamatan terhadap realitas yang terjadi, khususnya di India, Negara dimana ia tinggal, terdapat gejolak sosial yang luar biasa dimana agama-agama tersebar, dan secara teologis mengusung semangat ketuhanan, tetapi pada kenyataannya bertolak belakang dengan esensi kedamaian dan kesejahteraan umat manusia. Dia melihat begitu hebat pergesekan (konflik) kelompok masyarakat yang mengatasnamakan agama dan banyak menelan korban. Selain itu juga realitas adanya struktur sosial yang mengenal kelas di India sangat menghambat bagi hak-hak warga Negara untuk mendapatkan hidup yang layak. Sehingga menurut hemat penulis, lontaran gagasan tentang teologi pembebasan merupakan suatu yang fenomenal dan mendekontruksi pemikiran traditional-teologi dengan melakukan upaya aktif melalui berbagai gerakan-gerakan perspektif Teologi Pembebasan yang menuntut perubahan struktur sosial yang tidak adil dan menindas.
Lontaran pemikiran Asghar Ali ini tidak serta merta muncul begitu saja, melainkan adanya pengamatan terhadap realitas yang terjadi, khususnya di India, Negara dimana ia tinggal, terdapat gejolak sosial yang luar biasa dimana agama-agama tersebar, dan secara teologis mengusung semangat ketuhanan, tetapi pada kenyataannya bertolak belakang dengan esensi kedamaian dan kesejahteraan umat manusia. Dia melihat begitu hebat pergesekan (konflik) kelompok masyarakat yang mengatasnamakan agama dan banyak menelan korban. Selain itu juga realitas adanya struktur sosial yang mengenal kelas di India sangat menghambat bagi hak-hak warga Negara untuk mendapatkan hidup yang layak. Sehingga menurut hemat penulis, lontaran gagasan tentang teologi pembebasan merupakan suatu yang fenomenal dan mendekontruksi pemikiran traditional-teologi dengan melakukan upaya aktif melalui berbagai gerakan-gerakan perspektif Teologi Pembebasan yang menuntut perubahan struktur sosial yang tidak adil dan menindas.
Berdasarkan
uraian di atas, penulis melihat adanya upaya positif yang dilakukan oleh Asghar
Ali Engineer dalam mentransformasikan Islam. Islam Tidak hanya sekedar agama
doktriner yang terus berkutat dengan teks-teks Al-Qur’an dan Hadis saja sebagai
sumber ajarannya, melainkan juga mengkontekstualisasikan ajaran-ajran Islam
pada tataran praktis dimana umat Islam harus keluar dari keterkungkungan.
Kemiskinan bukan terletak pada apa yang sudah dikehendaki Tuhan, melainkan
sudah seberapa jauh manusia berusaha. Miskin bukan takdir, melainkan ada upaya
pemiskinan tersistematis dimana status quo yang sudah tersistematis harus
dihilangkan dari muka bumi. Kesetaraan adalah tujuan dari teologi pembebasan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar