bagian 1
INAL DATUNSOLANG[2]
PENGANTAR
Seumpamanya bung karno hidup di masa kini, lebih tepatnya 2015 menjelang
2016, dapat dipastikan beliau akan geleng-geleng
kepala melihat kaum mudanya. Kaum muda yang dipercaya dan diyakini sebagai
penerima tongkat estafet mengisi kemerdekaan dengan tidak terjerumus pada
perangkap globalisasi justeru malah menjadi budak-budaknya. Mungkin bagi
mereka, anak muda yang hidup di masa awal menjelang kemerdekaan mendedikasikan
masa mudanya untuk mengkonsepsikan kemerdekaan juga akan tertawa terbahak-bahak
melihat fakta kini yang melingkupi kaum mudanya yang sudah tak tahu bagaimana
manisnya kebersamaan, indahnya perbedaan suku bangsa, adat budaya, serta agama
yang diikat dalam sebuah sumpah suci. Sumpah pemuda yang di deklarasikan oleh
kaum muda yang terorganisir dalam jong java, jong celebes, jong sumatera, jong
ambon dll. Dan mungkin bagi mereka, anak muda yang hidup di masa awal
kemerdekaan dan turut mengabdikan dirinya dalam perang mempertahankan kemerdekaan
akan pusing tujuh keliling, setelah tahu bahwa tujuh dasawarsa kemudian anak
mudanya menjadi serba acuh tak acuh dengan kondisi bangsanya sendiri.
Sekali lagi mungkin, bagi mereka, anak muda yang hidup di masa
penggulingan rezim orde lama, penggulingan rezim orde baru yang otoritarianisme
itu, serta anak muda yang ikut mengisi era reformasi akan malu yang teramat
sangat, ketika tahu dengan pasti bahwa kaum mudanya lebih takut kehilangan
pulsa data ketimbang buku. Pernyataan
tersebut bukan sebuah generalisasi negatif atas pesimisme yang dalam mengenai
kaum muda dewasa ini.. Melainkan sebuah kritik yang mesti dijawab dengan konsep
gagasan dan bukti nyata berupa tindakan-tindakan yang mengarah pada populisme
elan vital kaum muda dalam memainkan peranannya sebagai sebuah entitas yang
memiliki spirit dan potensi penggerak,
penggebrak dan pendobrak.
Atau mungkin,
keresahan demikian hanya dirasa penulis yang sedih melihat dari sisi minimnya
daya kritis kaum muda dewasa ini. Bukan hanya terjebak dengan budaya barat yang
serba individualistik serta variannya (apatis, pragmatis, hedonis dan
sejenisnya), namun juga, tersandung batu budaya timur tengah yang negatif.
Lihat saja maraknya gerakan fundamentalisme islam(Wahabisme, HTI serta
sayap-sayapnya) memang memperihatinkan kondisi kaum muda di akhir tahun 2016
ini. Belum lagi merebaknya budaya “pokoknya” yang hingar-bingar di tubuh
mahasiswa-mahasiswi.
Pernyataan yang paling akhir ini kemudian mejadi fokus utama tulisan ini,
bukan pesimisme apalagi traumatik atas tindakan non populis yang ingin di bahas
penulis. Melainkan lebih ke arah bacaan diri dalam menyikapi kondisi bangsa
kita, sebut saja deklarasi indonesia sebagai bagian dari ASEAN COMUNITY di awal
tahun 2015. Hal ini memungkinkan perdagangan bebas antar negara kawasan asean,
yang menuntut masyarakatnya untuk bebas aktif dalam perdagangan lintas kawasan.
Tentunya kaum muda pun mau tak mau mesti menghadapi kondisi demikian. Bukan untuk
menakut-nakuti, namun inilah kondisi dan fakta yang sementara dihadapi kaum
muda.
REUNI MASA LALU
Sebelum sumpah pemuda di kumandangkan pada tahun 1928. Masih sedikit kaum
muda yang dapat menyadari betapa pentingnya arti sebuah kemerdekaan. Merdeka
dari penjajahan fisik, mental dan pikiran dari bangsa asing. Bangsa belanda
tepatnya. Hal itu dikarenakan minimnya kaum muda yang dapat mengenyam dunia
pendidikan. Kalaupun ada, itu dikarenakan mendapatkan bekal dari pesantren yang
notabene adalah model pendidikan asli dan khas indonesia. Model pendidikan
agama yang diajarkan oleh kyai baik di teras rumahnya maupun gedung pesantren
yang serba kekurangan fasilitas. Bagi mereka yang mendapat didikan di sekolah
hanyalah anak dari bangsawan yang sebagian besar menjadi antek kolonial saat
itu. Berdasarkan politik etis 1901 yang diterapkan pemerintah hindia belanda
(nama indonesia ketika itu) yang juga memprioritaskan pendidikan selain irigasi
dan imigrasi. Pendidikan seadanya itu pun menjadi modal awal kaum muda
terpelajar untuk mengkonsepsikan suatu cita-cita berdirinya kedaulatan rakyat
yang mesti dipimpin oleh rakyat indonesia pula. Cita-cita kemerdekaan dari
penjajahan pun terngiang meski baru hanya sekedar konsepsi sebagian orang saja.
Selebihnya, kaum awam yang tak mendapatkan pemutar balikan kesadaran tentunya
terus menjadi babu di negri sendiri.
Kaum muda yang turut andil dalam sumpah sakral itu kemudian melahirkan
generasi emas sesudahnya. Generasi yang sudah lebih terdidik baik di dalam
maupun luar negri yang terhimpun dalam berbagai macam organisasi sosial
kemasyarakatan. Berpolitik di zaman itu awal tahun 1945 adalah mendedikasikan
diri menjadi pelopor pergerakan nasional menuju kemerdekaan dari penjajahan
jepang dan keinginan belanda yang dibantu sekutu untuk menguasai kembali
indonesia yang baru seumur jagung di proklamirkan oleh mereka, anak muda
terdidik yang punya daya krtis di atas rata-rata. Punya bacaan geopolitik
dunia, geostrategi luar biasa sehingga mampu mengambil alih negeri nenek moyang
menjadi milik anak bangsanya sendiri.
Bukan untuk nostalgia kebagahagiaan semata, perjuangan memerdekakan bngsa
indonesia pun di iktui dengan pelbagai perang mempertahankan kemerdekaan.
Lahirlah kemudia pertempuran surabaya yang diperingati menjadi hari pahlawan
nasional yang jatuh pada 10 november. Waktu berlalu, perang dingin antara blok
barat yang dikomandoi amerika serikat melawan blok timur yang di nahkodai oleh
uni soviet pun menjadikan indonesia sebagai medan pertempurna. Bukan perang
fisik lagi, perang digin lebih mengarah ke perang hegemoni budaya dan ekonomi.
Dimana ketersediaak sumber daya alam yang dimiliki indonesia menjadi salah stau
penyebabnya. Medan pertempuran menjadi tak hangat lagi ketika runtuhnya tembok
berlin yang kemudian diikuti kemenangan blok barat. Hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintahan
indonesia di kemudian hari. Betapa tidak, indonesia yang baru merdeka secara
terang-teragan membeberkan gerakan non blok
yang tidak ingin berpihak sesalah satu blok yang sementara berperang.
Namun faktanya kemudian adalah, setelah kemengangan amerika dan antek-anteknya,
secara drastis menjadi negara adi kuasa yang meruntuhkan soviet. Terpecah
menjadi beberapa negara dikala itu.
Hegemoni globalisasi sebagai bentuk imperialisme baru dan kolonialisme
dalam jenis yang berbeda pun menjadi tantangan tersendiri. Hal demikian tentu
tidak lepas dari peranan kaum muda 1966 yang turut meramaikan perpolitikan
indonesia. Tumbangnya bung karno dari tahta negri ini bukan tanpa alasan dari
imbas perang dingin. Keberpihakan kepada PKI menjadis enjata untuk militer yang
di pimpin soeharto mengambil alih komando indonesia. Tanpa terkecuali, kaum mud
ayang ikut berafiliasi di dalamnya pun ikut mendidirikan rezim otoriter yang
selanjutnya runtuh setelah perang antar blok itu usai. Kaum muda 1998 kemudian
lahir dengan konsep reformasi indonesia. Namun reformasi yang setengah hati dan
di bungkus dengan niat memperkaya diri itupun melahirkan banyak perlawanan kaum
muda. Selepas dari itu hingga detik ini, kaum muda masi terjebak pada
patahan-patahan gerakan yang kemudian mengheningkan diri dalam dekapan
globalisasi. Setelah itu tak lagi banyak kaum muda yang menjadi pegiat sosial,
ikut merasakan penderitaan rakyat miskin, buruh tani, dan kaum mustadafin
lainnya. Masih ada, walaupun sedikit. Organisasi-organisasi kepemudaan hanya menjadi
sarang agenda seremonial belaka. Jarang sekali melahirkan aktivis berjiwa
populis. Meskipun ada, mereka hampir punah dan perlu pelestarian. Tulisan ini
dimaksudkan untuk merenungkan kembali sudah apa yang kaum muda deawasa ini
perbuat untuk bangsaya. Mungkin saja di luar sana ada anak muda yang masih
aktif berdiskusi dan ikut peduli akan kondisi bangsa ini. Semoga...
SIAPA KITA
(?)
Bagi mereka
yang masih sering berdiskusi, tentu paham betul mengenai pengantar yang penulis
sajikan di atas. Bahwa ada semacam diktum yang melekat di diri kaum muda saat
ini yaiti ” kaum muda harapan bantal”. Anggapan negatif demikian memang patut
di jawab, bukan kemudian sekedar jawaban dalam bentuk rangkain teori yang hanya
menjadi analisa belaka. Masih segar di ingatan kita memang, geliat kaum muda di
masa-masa lalu baik dengan sumpah pemudanya, proklamasi kemerdekaannya, perang
fisik melawan penjajah, peran mengisi kemerdekaan, hingga perlawanan pada kaum
tua, perlawanan pada otoritarianisme militer, dan bahkan reformasi semu yang
masih menggerogoti hingga kini. Kata “KITA” yang mesti di embankan pada kaum
muda saat ini adalah bukan kita yang bekonsepsi sumpah pemuda, bukan kita yang
melawan penjajahan belanda dan jepang, bukan kita yang memproklamasikan
kemerdekaan, bukan kita yang menumbangkan rezim orde lama dan orde baru, buka
kita yang menginisiasi reormasi. Kata “kita” yang coba penulis uraikan adalah
kita yang telah hadir kemasa muda ini, dengan banyak perangkap yang di hadapi.
Baik itu di internal, kita menghadapi kondisi disintegrasi bangsa dengan
maraknya korupsi, kolusi, dan nepotisme. Maraknya kunsumerisme, idividualistik,
apatisme, pragmatisme, serta hedonisme. budaya serba instan yang oleh penulis
di namai budaya pokoknya[3].
Di eksternal kita menghadapi hegemoni westernisasi yang di kumandangkan oleh
globalisasi dengan term segalanya serba cepat (fordisme, mc donaldisme dan
internetisme), belum lagi toleransi umat beragama sedang di porakporandaan
dengan maraknya gerakan fundamental dan liberal yang kian merajalela.
KENAPA KITA (?)
Lantas bagaimana menghadapi sekumpulan problematika yang sementara di
hadapi ini kalau bukan dengan belajar. Belajar dari masa lalu, baik yang
tersirat maupun tersurat. Belajar memahami keadaan serta mengambil langkah
taktis strategis guna penyelamatan kemerdekaan yang telah susah paya di raih di
masa lampau. Kita adalah kaum muda yang mengemban amanah dari pendahulu untuk
mengisi kemerdekaan dengan terus belajar dari pengalaman masa lalu, yang buruk
jangan di ulangi, yang baik di ambil, pemahaman akan sistem dunia yang semakin
hari semakin menjadi-jadi tentunya perlu menjadi kesadaran bersama. Sistem
dunia yang penulis maksud adalah adanya keinginan negara-negara kuasa global
yang banyak tergabung dalam organisasi ekonomi politik seperti UNI EROPA,
UNESCO, SANGHAI CORPORATION, MNC group, TNC group yang terus menerus
melancarkan hegemoni untuk negara-negara semi pinggiran seperti indonesia
menjadi tetap tergantung sehingga memberikan kebebasan untuk kuasa modal asing
tetap mengeksploitasi sumber daya alam kita yang kaya.
Karena kita anak muda masa kini pun harus cerdas menghadapi
tantangan-tantangan yang ada maka penting kiranya mempertajam bacaan
kepentingan dunia terhadap negeri kita. Mesti menghadapi kemajuan ilmu
pengetahuan dengan mengambil baiknya untuk melawan sisi buruknya. Karena sebaik
apapun globalisasi yang menjadi tema utama hegemoni barat terdapat
intrik-intrik politik ingin menguasai cadangan ssumber daya alam kita. Negeri
barat yang sudah terlanjur industri seperti amerika, eropa dan sebagainya tentu
memerlukan bahan mentah untk megelola dan menjalankan pabrik-pabriknya.
Pertarungan antar sesama mereka pun tak ayal di jumpai dari sabang sampai
merauke. Perebutan hasil bumi seperti minyak dan gas, emas dan tambang-tambang lainnya.
Hasil hutan sebagai keniscayaan negeri tropis yang kita miliki pun mestinya
menjadi patut di waspadai kelangsungannya.
Hegemoni eksternal yang kita hadapi tak hanya itu, seperti halnya
negara-negara semi pinggiran seperti indonesia, kita di himpit oleh dua
samudera. Samudera pasifik dan hindia -atlantk, yang tentunya negara-negara
yang mendiami seputaran samudera itupun terdapat pertempuran-pertempuran
budaya. Belum lagi di sisi ekonomi, china sebagai pesaing amerika mesti
diwaspadai ketangguhan ekonominya, hegemoni komunis merak pun tak boleh lepas
dari perhatian. Kita pernah mengalami benturan dengan komunis sebelumnya. Jangan
sampai gerakan 30 september PKI terulang. Di sisi lain australia sebagai
satelit negeri-negeri barat pun menjadi bahan tersendiri untuk di perhatikan.
Pasar bebas yang telah berlangsung ini mesti di isi oleh kaum muda yang
serba kreatif, dan inovatif dalam pelbagai bidang. Penulis yakin kata “kita”
mesti dielaborasi mejadi sebuah kekuatan kaum muda yang tetap peduli terhadap
kondisi bangsanya. Meskipun demikian, patut kita ambil hikmah dari masa lalu
guna menapaki jalan masa kii dan masa depan nanti.
Kenapa kita, karena suatu perlawanan yang dilakukan secara
sendiri-sendiri hanya akan melahirkan deretan kekalahan. Sudah bukan zamannya
lagi ada pahlawan kesendirian. Yang ada adalah kerja kolektif. Ada adigium yang
patut kita ambil pelajarannya yaitu” bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”
ini menegaskan bahwa,d ibutuhkan kebersamaan kaum muda untu melakukannya. Di
butuhkan kesadaran kolektif di dalam mengisi kemerdekaan ini.
UNTUK APA KITA (?)
Dalam pelbagai kesempatan, perlu kita ulangi secara terus-menerus
kesadarn kritis itu mesti dibangun atas dasar proses yang tidak mudah.
Membekali diri dengan keterampilan yag serba canggih adalah keniscayaan yang
harus di hadapi. Menggunakan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi untuk
melawan hegemoni tekhnologi adalah bagian dari solusi alternatifnya. Sudah
barang tentu diskusi mengenai kesadaran diri kaum muda adalah wajib hukumnya.
Dalam ranah organisasi pun demikian sebab, berbeda antara kaum muda yang
terkafer dalam sebuah organisasi dengan mereka yang tidak berorganisasi.
Bedanya adalah ketika berada dalam suatu organisasi, kaum muda tentu akan di
hadapkan pada pilihan mengikuti ideologi yang di perjuangkan organisasi
tersebut shingganya. Kesadaran akan dapat di bektuk di dalamnya. Orientasi kegiatan-kegiatannya
pun akan termaktub dalam anggaran dasar da anggaran rumah tangganya. Pun hal
demikian harus di tapaki secara serius guna untuk menghadapi segala
kemungkinan.
Membekali diri dengan mengisi nalar mental yang tidak inlander
(budak/jajahan) adalah salah satu tujuan adanya kata “kita”. Meski dengan
terseok-seok menghadapinya dan butuh nafas panjang melakukannya, dengan
bersandar kepada cita-cita luhur bangsa kesemuanya akan dapat di hadapi.
Semboyan bhineka tunggal ika dapat mejadi spirit membangun negeri ini dengan
mencintai perbedaan sebagai konsekwensi bagsa yang plural dan multikultural.
Negera kesatua repoblik indonesia adalah sebuah negara yang d persatuka air
laut sungai dan bukan dipisahkan olehnya. Kita adalah negeri kepulauan dengan penduduk
muslim terbanyak dunia, dan negeri yang mengakui kebebasan beragama menurut
kepercayaannya masing-masing adalah negeri dengan modal besar menghadapi segala
tantangan-tantangan nanti. Dan kata “kita” dalam hal ini menegaskan kaum
mudanya yang hidup di masa sekarang adalah “kita” yang melawan penindasan,
mempelopori gerakan mengisi kemerdekaa dengan jalan mencerdaskan generasi kita.
Terus belajar dengan proses yang kita cintai, belajar mendisiplinkan diri,
belajar memaknai kemerdekaan lantas mengisinya dengan kegiatan-kegiatan yang
berpotensi melahirkan kemanusiaan yang adil dan beradap, persatuan negara
bangsa indonesia, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia dengan berasas pada
perdamaian abadi dan tentunya dengan spirit ketuhanan yang maha esa.
Kita adalah kita yang ada saat ini, kita yang maju, kita yang cerdas,
kita yang canggih yang tau berterima kasih pada pendahulunya. Yang bebuat
kebaikan dengan tidak pandang bulu, suku, ras, agama dan lainnya. Karena kita
adalah kaum muda inonesia yang senantiasa mawas diri dalam menghadapi beaneka
ragaman. Selalu mau berbuat untuk indonesia tercinta. Karena “kita adalah kaum
muda masa kini dan akan bermanfaat untuk bangsa ini”
PENUTUP
Berhenti mengeluh dan beproses terus adalah pengejewantahan dari nilai-nilai
pancasila yang bercita-cita luhur dalam mengisi kemerdekaan. Menjadi pelopor
pergerakan bangkit kaum muda adalah keniscayaan yang tak bisa di hindari.
Pelopor pergerakan dalam maksud yang mulia, yakni mengisi kemerdekaan dengan
pelbagai agenda perubahan untuk indonesia raya.
Karena kita adalah kaum muda.
[1]
Esay untuk diskusi kaum muda
[2]
Penulis adalah mahasiswa pasca sarjana IAIN Gorontalo dan pegiat diskusi kaum
muda
[3]
Budaya pokoknya adalah budaya serba pokoknya, pokoknya ini dan pokoknya itu.
Tak ada penghargaan atas proses yang dialami. Melainkan menitik beratkan pada
hasil saja. Lihat dalam BUDAYA POKOKNYA,
Tulisan ini bisa di dapat di rumah belajar densus 99.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar